Yesus Kristus Atau Iblis (Bagian 1)

Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!      Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Yakobus 4:7,8.

Renungan Harian – Pada suatu hari seorang ibu guru pengajar bidang studi Agama di sekolah, memberikan ujian kepada tiga orang muridnya yang beragama Kristen. Soal ujian hanya terdiri dari dua pertanyaan, namun diberikan waktu satu jam mengerjakanya. Sebut sajalah nama ketiga murid itu dengan inisial si A, B dan C. Inilah soal ujiannya,

  1. Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Tuhan Yesus!
  2. Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Iblis!

Mulailah mereka bertiga mengerjakan sesuai dengan pengetahuan masing-masing. Si A menuliskan segala sesuatu yang dia ketahui dari hal Yesus. Dialah Juruselamat, Dia gembalaku dan seterusnya. Si A pun menuliskan hal yang sama untuk soal no. 2, Iblis itu jahat,  licik, penipu dan lain-lain. Si B juga melakukan hal serupa, bahkan soal no 2, dia terangkan dengan begitu panjang. Iblis itu penghancur keluargaku, dia yang membuat orang tua ku selalu ribut sampai bercerai dan hancurlah hari depanku…dan masih banyak yang lain. Berbeda dengan si C, menghabiskan waktu satu jam hanya untuk mengerjakan soal no 1. Berdasarkan pengalamannya yang nikmat bersama Yesus di tengah keluarga, sungguh berbahagia. Suasana kasih mesra antara orang tua dan anak demikian sebaliknya hanya karena kasih Yesus. Semua dituangkan di atas kertas jawaban, menghabiskan waktu satu jam. Ketika kedua temannya melirik, mereka bertanya, “mengapa C tidak mengerjakan soal no 2?” Dengan tidak berpikir panjang tanpa ragu-ragu dia menuliskan satu kalimat pendek sebagai jawaban soal no. 2, “Saya tidak punya waktu untuk Iblis!” Dengan jawaban sesingkat itu, cukup menjadikan C dinyatakan sebagai siswa terbaik untuk tugas itu di sekolahnya.

Pengalaman ketiga pelajar A, B dan C dalam menerangkan tentang Yesus Kristus dan Iblis, mungkin sudah amat familiar di kalangan pembaca (netizen), karena itu adalah kisah yang sudah lama. Namun perlu mengingatkan kembali, demikianlah pengalaman Kekristenan dalam menyikapi pengaruh Yesus maupun Iblis dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan oleh C, dengan menyatakan, “Saya tidak punya waktu untuk Iblis” benar sekali dan  demikianlah hendaknya ketetapan kita setiap saat. Semua pembaca Alkitab mengetahui dasar etimologis dari kata “hawa nafsu” sebagai terjemahan baku bahasa Indonesia. Ini berawal dari penglaman Hawa, perempuan nenek moyang manusia pertama di taman Eden. Baca dengan cermat Kejadian fasal 3, yang menceritakan asal mula dosa masuk ke dunia ini. Ketika Iblis yang menyaru seperti ular datang di taman Allah yang mereka tempati dengan sentosa, telinga fisik dan telinga rohani Hawa sudah mendengar suara ular yang mengajak dia agar melangggar ketetapan Allah. Seharusnya sikap Hawa termasuk semua yang mengaku pengikut Yesus Kristus, saat menghadapi godaan seperti itu, jangan membuka waktu bagi Iblis. Jadilah seperti siswa C dengan mengatakan, “nyah lah hai Iblis…saya tidak punya waktu untukmu!”

Tragisnya Hawa membuka peluang berdialog dengan ular. Dan yang amat mengherankan dia sambil memandang-mandang buah pohon larangan sampai pada gilirannya timbul keinginannya untuk memakan. Padahal dalam pikirannya senantiasa terlintas perkataan Allah yang selalu mengingatkan mereka agar jangan memakan buah itu. Membuang-buang waktu dengan Iblis akhirnya akan mengalami kejatuhan. Sejak saat itulah merajalela pelanggaran terhadap perintah Tuhan disebabkan “hawa nafsu.”

error: Content is protected !!