Waspadai Kemungkinan Perusak Kerukunan

Luputkanlah aku, ya TUHAN, dari pada manusia jahat, jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan, yang merancang kejahatan di dalam hati, dan setiap hari menghasut-hasut perang! Mereka menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular senduk ada di bawah bibirnya. S e l a. Mazmur 140:2-4.

Penyejuk Jiwa – Salah satu sikap yang amat berbahaya dan selalu meracuni kerukunan ialah hasutan. Oknum-oknum yang senang melakukan ulah seperti itu sekarang ini terkenal dengan julukan “provokator.” Ayat renungan kita hari ini meyebutkan, mereka menajamkan lidahnya seperti ular, bisa atau racun ular senduk (kobra) ada dibawah bibirnya. Sangat mengerikan bukan. Ada satu contoh peristiwa dari sekian banyak kejadian yang dipicu oleh adanya hasutan atau provokasi.

Dua kampung (desa) saling berdekatan di satu kawasan kecamatan sebutlah desa A, dan desa B. Dalam waktu lama hubungan kekerabatan antar kedua kampung tersebut berjalan sangat harmonis, dan tidak jarang warganya saling kunjung mengunjungi. Terlebih lagi saat ada pesta misalnya pernikahan, bahkan perayaan hari-hari besar pun sudah pasti mereka selalu bekerjasama. Boleh dikata baik dalam sukacita maupun dukacita semua warga selalu seperasaan dan sepenanggungan.

Namun satu ketika diketahuilah seorang pemuda dari kampung A hilang, tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Yang amat membuyarkan suasana, saat tidak lama kemudian terdengar gosip bahwa pemuda tersebut dibunuh oleh sekelompok pemuda dari kampung B, tetangga baik mereka selama ini dan dikuburkan di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Sudah barang tentu mendengar khabar buruk seperti itu, warga kampung A tidak mau tinggal diam, mulai terbakar emosi apalagi tidak tega melihat  keluarga korban dirundung duka yang berkepanjangan.

Maka terjadilah perang sengit antar kedua desa dengan saling menyerang sampai menelan korban jiwa berikut kerugian materi yang cukup besar karena ada beberapa rumah yang dibakar. Sekalipun pertikaian seperti kelihatan reda atas upaya dari aparat keamanan mendamaikan, namun dari waktu ke waktu keadaan tidak lagi kondusif. Malahan hubungan warga kedua desa tetap menunjukkan adanya permusuhan meskipun bagaikan api dalam sekam. Kondisi yang saling mencurigai itu berlangsung beberapa tahun tak kunjung dapat dipulihkan lagi seperti sedia kala. Seiring dengan berjalanya waktu, disatu saat datanglah keluarga muda dengan dua anak ke kampung A. Kedatangan satu keluarga baru ini cukup menyita perhatian masyarakat karena kelihatan wajah si pria mirip dengan pemuda yang beberapa tahun lalu dinyatakan hilang.

Ternyata tidak diragukan lagi setelah sesampainya di desa A, tamu pendatang baru tersebut langsung menuju rumah kediamana keluarga yang kehilangna anak beberapa tahun lalu. Di dorong oleh perasaan ingin tahu dengan rasa antusias, para warga segera berkerumun mengorek berita. Benar, dialah pemuda yang dinyatakan hilang beberapa tahun silam, dimana dia minggat dari rumah untuk merantau ke negeri orang dan kemudian berhasil. Pokok permasalahanya karena diapun tidak pernah mengabari orang tuanya, selama keberadaanya di perantauan, sehingga terjadilah konflik berkepanjangan antar kedua desa yang diawali oleh hasutan atau provokasi. Akhirnya muncullah lagi kegaduhan yang lebih menyedihkan, karena setelah mengetahui berita itu, warga kampung B malah balik menyerang sejadi-jadinya karena merasa bahwa kejadian sebelumnya hanya karena mereka dijadikan korban fitnahan. Lagi-lagi warga kedua kampung terlibat perkelahian yanag menelan korban dan kembali merepotkan pihak keamanan memadamkan amuk massa.

Melalui peristiwa ini dapat kita petik pelajaran bagaimana bahaya hasutan atau provokasi yang sering meracuni kerukunan. Mungkin itulah penyebab munculnya istilah dalam hidup ini yang mengatakan bahwa, “fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” Karena memang fitnah itu sering mengakibatkan jatuhnya banyak korban sebagai dampaknya. Untuk inipun ada nasihat Firman Tuhan bagaimana caranya  menangani perbuatan kesalahan orang agar tidak menimbulkan masalah.

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Matius 18:15,16.

Konsep inipun sangat diperlukan dalam usaha mencari fakta, agar menghindari tindakan main hakim sendiri. Selidiki dahulu dengan seksama dengan menggunakan langkah-langkah yang proporsional. Dan jangan lupa peranan doa kepada Tuhan, niscaya Dia akan mengilhami anda dan saya dengan jalan keluar yang amat elegant demi keutuhan kerukunan. Selalu kita ingat, “dimana ada kerukunan ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya.” Semoga ini menjadi bagian kita!

error: Content is protected !!