Vaksin Palsu

Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. Kisah Para Rasul 17:11.

Penyejuk Jiwa – Ayat ini merupakan cuplikan dari pengalaman Paulus dalam episode perjalanan missionarinya, menjelajahi Asia kecil dalam misi pemberitaan Injil Yesus Kristus. Inilah kali pertama rasul tersebut dalam suratnya, mengungkap perbandingan kerohanian umat-umat yang dia layani dengan maksud memberikan nasihat. Seperti kita tahu dari sejarah Alkitab juga di fasal yang sama, ketika semakin bertambah banyak orang yang mempercayai kitab suci melalui pemberitaan Paulus, muncullah pihak-pihak yang membenci kebenaran. Mereka menyerbu rumah Yason yang menjadi host dari KKR yang diselenggara kan oleh Paulus dan Silas saat itu. Itulah sebabnya kedua rasul terpaksa menyingkir ke Berea satu kota yang bertetangga dengan Tesalonika. Hasil pengamatan rasul yang bersemangat inilah kemudian yang diungkapkan dalam suratnya bahwa orang Yahudi di Berea lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika.

Adapun alasan signifikan yang hendak dikemukakan dalam hal ini, tidak lain dari faktor pendukung mengapa mereka lebih baik. Ini yang mau ditekankan oleh Paulus melalui Firman Tuhan yaitu, “menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”

Rumusnya di sini adalah, siapapun yang mererima Firman Tuhan setelah menjalani proses penyelidikan setiap hari, dipastikan hatinya lebih baik dari orang yang menerima tanpa menyelidiki. Pengertian dari “baik hati” dalam ayat ini sesungguhnya amat luas. Namun mari kita simak melalui aplikasi sederhana. Dalam istilah kehidupan sehari-hari sering dikenal orang yang baik hati. Dan semua kita mengetahui latar belakang jika seseorang disebut “baik hati.” Sudah barang tentu kebaikan hati seseorang itu akan dia nikmati, hatinya nyaman dan juga dinikmati orang lain. Sangat jauh berbeda dengan orang yang “sakit hati.” Hatinya sakit tentu ia menderita, dan pasti akan merembet juga kepada pihak lain. Para pakar physikologi berulang-ulang mengungkapkan hasil temuan ilmiah yang teruji secara klinis, bahwa orang yang selalu menyimpan rasa “sakit hati” perlu berhati-hati karena itu akan menggerogoti kesehatan jasmani. Resepnya ialah, terima dan hidupkan Firman Tuhan setelah anda menyelidiki dengan seksama setiap hari.

Kini Indonesia khususnya yang berdomisili di Jakarta sedang dikagetkan oleh berita kejahatan medis, dimana telah bertahun-tahun adanya praktek penggunaan vaksin palsu. Tentu ini dilakukan oleh oknum-oknum yang berusaha mendapat keuntungan sebesar—besarnya tanpa memikirkan akan jatuhnya korban di kemudian hari. Tentu ini sudah menjadi masalah nasional sehingga Bapak Jokowi Presiden RI telah turut berbicara. Terlepas dari usaha kepedulian penegak hukum menangani perkara ini, kita hanya ingin melihat dari sisi pengenalan hal-hal yang palsu. Tidak ada cara lain untuk mengenal yang palsu kecuali telah lebih dahulu memahami dan mengenal yang asli. Karena yang palsu selalu hampir sama dengan aslinya, bahkan sering disebut, “serupa tapi tak sama.”

Inilah yang diwaspadai oleh orang Kristen Yahudi di Berea perihal Firman Tuhan. Mereka menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati, namun giliran aplikasinya harus diselidiki dulu dengan seksama apakah sesuai dengan aslinya.  Sikap ini mereka lakukan dengan tekun mengingat banyaknya guru-guru  Alkitab yang palsu saat itu, demikian tentunya dengan zaman sekarang. Biarlah setiap orang yang mempercayai Alkitab melakukan hal yang sama, agar terhindar dari kepalsuan yang menipu.

error: Content is protected !!