Ujian Tertinggi Untuk Iman

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Ibrani 11:17-19.

Penyejuk Jiwa – Kisah yang memuat ujian tertinggi untuk iman ini, ditulis selengkapnya di Kitab Kejadian 22 Alkitab Perjanjian Lama. Adapun surat Ibrani mengutip kembali di Perjanian Baru, karena dapat menekankan keteguhan iman melalui pengalaman nyata dari seorang abdi Allah dengan maksud agar diteladani. Mari kita telusuri kembali dengan seksama. Lima puluh tahun lamanya Abraham menunggu kegenapan suara Allah bahwa melalui Ishaklah Dia menjanjikan keturunan hingga bagaikan bintang di langit dan pasir di tepi laut banyaknya (Kejadian 22:17). Barulah Ishak lahir, itupun ketika Sara isterinya sudah berusia seratus tahun. Yang membuat lebih ironis lagi sebenarnya ialah ketika Ishak anak perjanjian itu sedang bertumbuh dewasa, datanglah suara memerintahkan agar Abraham menyembelih anak itu sebagai korban bakaran di tempat yang telah ditentukan.

Coba kita tempatkan diri kita di pihak Abraham, sudah pasti ada kecenderungan untuk berlogika. Bukankah Allah yang telah menjanjikan keturunan bagi saya dari anak satu-satunya yang telah bertumbuh ini, berarti itu bukanlah suara Allah, ini pasti suara setan. Saya tidak mau menurutinya.

Akan tetapi Abraham tidak pernah berpikiran demikian. Firman Tuhan mengatakan Abraham langsung merespon dengan tidak ada tedeng aling-aling. Kesimpulan itu dikuatkan ketika Abraham tidak memberitahukan kepada isterinya, takut Sara akan membujuk untuk membatalkan kehendak Allah yang sudah jelas diketahuinya. Dengan hati-hati dia membangunkan Ishak di waktu subuh bersama dua orang hambanya laki-laki. Abraham menyuruh mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk satu perjalanan. Kemudian Abraham menuntun mereka menuju tempat yang telah ditentukan oleh suara itu. Mari kita bayangkan pergumulan batin yang berkecamuk di benak Abraham yakni, “Bagaimanakah caranya menyampaikan berita ini kepada Ishak? Bagaimana kalau Ishak seorang pemuda yang telah perkasa ketika itu, menganggap orang tuanya sudah gila, sehingga dia tidak mau menuruti perintah ilahi itu?” Sudah barang tentu hal ini merupakan perkara dilemmatis jika dalam diri orang yang tawar iman.

Sewaktu rombongan sudah melihat bukit Moria, Abraham mulai melihat puncaknya “diselubungi kemuliaan janji itu” dan semakin merasa pasti bahwa suara yang didengarnya itu berasal dari Sorga. Namun suara yang samalah juga yang menjanjikan kepada dia akan memperoleh keturunan dari Ishak (Kejadian 21:12). Bagaimanakah ini dapat terjadi kalau bukan Allah pemberi hidup itu juga yang dapat mengembalikanya (Ibrani 11:19).

Perlu kita ingat, sampai saat itu belum pernah ada orang yang dibangkitkan, namun Abraham mempunyai keyakinan yang pasti akan janji Allah bahwa keturunannya akan terbit dari Ishak yang tinggal menunggu menit untuk dikorbankan. Keyakinannya yang teguh ini dinyatakan kepada hamba-hambanya ketika ia berkata: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” (Kejadian 22:5). Perhatikan kata kami akan kembali kepadamu, berarti ini adalah keoptimisan berdasarkan iman. Bukankah seharusnya Abraham berkata, “saya akan kembali” karena Ishak telah dikorbankan. Namun demikianlah kepastian iman Abraham. Tidak heran mengapa dia disebut “sahabat Allah” (Yakobus 2:23. Semua kita tahu akhir kisah ini, dimana malaikat Tuhan bersuara kepada Abraham ketika hendak menyembelih anaknya dengan pisau di tangan. Dan Allah telah menyediakan seekor domba di dekatnya sebagai pengganti. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.” Kejadian 22:14.

Allah bergembira kalau kita menunjukkan iman seperti Abraham. Di zaman Abraham, Allah mengucapkan janji-Nya itu dengan jelas kepada hamba-hamba-Nya, sekarang Dia berbicara melalui firman-Nya yang tertulis itu. Firman itu dipenuhi dengan janji-janji yang sangat berharga dan sangat besar dan itu semua diberikan kepada anda dan saya. Mari kita nikmati melalui iman yang hidup!

error: Content is protected !!