Turut Semua Ke Betleham

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lukas 2:8,9

Renungan Harian – Mari kita awali renungan hari ini dengan liyrik sebuah lagu rohani yang sering dinyanyikan tatkala beribadah memperingati kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Akan lebih baik lagi seandainya dinyanyikan sambil meresapi kata-katanya, seolah-olah sedang berada dalam rombongan perjalanan musafir menuju Betlehem hingga anda dan saya berada di sana menyaksikan sang Juruselamat lahir. Demikian hadirin melantunkannya melalui Kidung Jemaat,

 Hai mari berhimpun dan bersuka ria, turut semua ke betlehem. Marilah pandang Tuhan bala sorga

Reff. Sembah dan puji Dia, sembah dan puji Di-a

Sembah dan puji Dia, yang raja.

Ada beberapa indicator yang menunjukkan di bagian mana kita berada secara rohani ketika mengakui, merayakan dan menyembah Yesus Kristus yang lahir sebagai Juruselamat dan Penebus manusia. Alkitab sungguh sistematik mencatatnya agar menjadi penuntun bagi semua umat manusia yang percaya melalui firman-Nya. Semua itu dapat terlihat dengan jelas dalam lembaran-lembaran kitab suci khususnya sejarah peristiwa Betlehem. Kita akan menyimak satu persatu sambil merenungkanya di dalam hati.

  1. Gembala

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Lukas 2:8

Begitu para gembala mendengar perkataan malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Segera setelah mendengar berita kesukaan besar dari malaikat, apakah yang dilakukan oleh para gembala pada malam itu juga?

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”  Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ayat 15,16

Dapat kita bayangkan bahwa yang pertama percaya dan merespon kabar kesukaan dari malaikat Tuhan tentang kelahiran Yesus, adalah gembala yang semalam-malaman berada di padang menjaga kawanan ternak mereka. Bukan hanya itu saja, ketika gembala-gembala telah melihat, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Ayat 17. Yang sangat mengharukan hati kita ialah hasilnya, “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.” Ayat 18

Dari pengalaman para gembala itu, banyak sekali pelajaran yang dapat kita tarik khususnya dalam menyikapi panggilan untuk bertemua dengan Yesus. Pertama, mereka cepat-cepat berangkat, dengan kata lain tidak mau terlambat menyembah Juruselamat. Bukan hanya itu gembala meninggalkan kawanan ternak mereka, dengan kata lain meninggalkan segalanya demi bertemu dengan Kristus. Bukankah banyak di antara umat Bergama yang lebih mengutamakan materi daripada menyembah Allahnya? Namun para gembala di Betlehem tidak pernah dihalangi oleh apapun asalkan segera bertemu dengan sang Penebus mereka. Kedua, mereka memberitahukan, kepada orang-orang tentang Yesus yang telah mereka saksikan, dan Alkitab mencatat, “semua orang yang mendengarnya heran.” Alkitab terjemahan lain menyebut “takjub” meskipun pengertiannya sama. Pernahkah kita berhasil membuat orang takjub kepada Yesus karena kita cerita tentang Dia sekembali dari ibadah perayaan natal. Atau malah mereka takjub dengan pakaian saya, hiasan-hiasan gereja, kemerduan suara koor di mana saya ada, dan lain-lain yang bersifat manusiawi karena itulah yang saya beritakan. Perlu kita ingat, bahwa di kawasan Nazaret ketika Yesus lahir, gembala adalah tingkat kehidupan paling rendak menurut anggapan orang. Namun mereka menyadari dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa status kehidupan bukan menjadi kriteria bagi Tuhan. Yang paling utama bagi Dia pergi ke Betlehem dengan pikiran yang jernih untuk mendapatkan kesejukan jiwa setelah melihat dan menerima Yesus lahir di dalam hati. Berikut kita akan simak sosok yang lain yaitu Simeon.

error: Content is protected !!