Tuhan Memperjuangkan Perkaramu

Sebab itu beginilah firman TUHAN: “Sesungguhnya, Aku akan memperjuangkan perkaramu, dan akan melakukan pembalasan untukmu, Aku akan mengeringkan lautnya dan akan menggersangkan sumber airnya.” Yeremia 51:36.

Penyejuk Jiwa – Yeremia adalah nabi penerus Yesaya meskipun Yeremia diutus Tuhan memfokuskan pelayanannya di Yehuda pada waktu itu. Mereka bekerja di era 700 – 600 sebelum tarikh masehi. Di sini dapat kita lihat bagaimana Tuhan masih tetap berupaya melalui kedua nabi-Nya, agar bangsa yang telah jauh menyimpang (Israel dan Yehuda) menyadari bahwa Tuhan lah yang memperjuangkan perkara mereka. Ini hanya dapat diraih melalui pertobatan yang sungguh. Dan bilamana tercapai, maka mereka hanya tinggal diam dan tenang sesuai janji Tuhan yang telah disampaikan melalui nabi-Nya.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Yesaya 30:15.

Demikian besarnya kasih kemurahan Tuhan kepada bangsa-Nya sehingga memberikan jaminan kekuatan dan keselamatan namun diayat berikut dijelaskan apa adanya.

Tetapi kamu enggan kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit. Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Ayat 16-18. Bangsa itu masih tetap juga keras tengkuk sekalipun Allah telah membeberkan sebab dan akibatnya. Satu kisah nyata dimana saya ikut melihat kenyataanya.

Sebelum dipanggil menjadi seorang pendeta, saya mengawali karier sebagai guru di salah satu Perguruan Kristen. Dengan berjalannya waktu lokasi gedung sekolah kami, menyatu dengan pemukiman penduduk yang tadinya masih terisolasi. Persis di belakang gedung tinggallah satu keluarga yang kemudian menanam sepohon mangga di belakang rumahnya. Seperti kita tahu namanya pohon lama kelamaan bertambah besar hingga cabang rantingnya merambat sampai di atas atap gedung. Tentu akan ada cabang atau ranting juga daun-daun yang gugur apalagi buahnya pada saat musim berjatuhan, sudah sangat mengganggu karena kebetulan juga gedung beratap seng. Dengan iktikad baik kami dari pihak sekolah mengatur pertemuan dengan keluarga mencari solusi paling tidak agar semua cabang yang merambat ke bagian atap gedung dipotong. Saya masih mengingat bahwa pihak sekolah bersedia mencari sekaligus membayar upah orang untuk mengejakanya. Akan tetapi dengan lantang pemilik yang memang seorang terpandang ketika itu, malahan menjadi marah mengatakan jangan.

Kedua belah pihak tentu sama-sama tahu, bahwa dari segi hukum hal ini sudah pasti pelanggaran batas.  Itu sebabnya dari antara pihak sekolah ada yang mengusulkan agar ditempuh saja secara jalur hukum. Namun menyadari firman yang berkaitan dengan renungan hari ini, rapat dewan sekolah mengambil sikap menyerahkan segala perkara itu kepada Tuhan. Ditentukan hari doa dan puasa khusus untuk memohon campur tangan-Nya. Apa hasilnya para pembaca? Masih segar dalam ingatan saya hanya dalam selang waktu 4 bulan pohon mangga itu layu akhirnya mati kering. Pesan moralnya di sini ialah, “Biarkan Tuhan memperjuangkan perkaramu, hindari beperkara dengan orang lain!” Percayalah!

error: Content is protected !!