Terapi Ilahi Yang Mujarab

Firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun,  sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau.” Keluaran 15:26.

Apa yang kita uraikan pada renungan harian terdahulu perihal makan dan minum yang berubungan erat dengan kesehatan jasmani, itu baru sekilas dari sejumlah nasehat Firman Tuhan. Belum lagi ketepatan waktu jam makan, suasana hati, pengendalian pikiran, peranan spiritual untuk penyembuhan dan lain-lain, semua dimuat dalam Alkitab. Ini diformulasikan sebagai ketetapan, dan menjadi perintah Ilahi agar setiap orang yang memasang telinga untuk mendengarkan dan mengikuti perintah-perintah tersebut akan terhindar dari penyakit manapun sebab Tuhanlah yang menyembuhkan.  Itu sebabnya nabi Yeremia, abdi Allah yang banyak menghadapi tantangan saat pelayanannya, selalu berketetapan berdoa kepada Tuhan dengan pengharapan yang pasti,  “Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku!” Yeremia 17:4

Demikian juga nabi Daniel bersama sahabat-sahabatnya, ketika menjadi tawanan di kerajaan Babilon (Kasdim). Ada hal  yang sangat menarik dari pengalaman mereka dan perlu dipetik menjadi pelajaran bagi kita yang hidup sekarang.

Dalam status sebagai tawanan satu kali  raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja, kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa. Di antara mereka itu terpilihlah Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Agar segera beradaptasi dengan budaya Kasdim menurut raja, maka diperintahkannyalah pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: “Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamai Mesakh dan Azarya dinamai Abednego.” Namun mereka tetap yakin bahwa nama bisa diganti, tabiat jangan.

Daniel bersama ketiga sahabatnya tetap teguh untuk tidak menajiskan diri dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja, sudah tentu ini anggur beralkohol (menurut bahasa Aramic, bahsa original kitab Daniel). Mereka mintalah kepada pemimpin pegawai istana itu, agar tidak usah menajiskan dirinya dengan santapan raja.

Dengan merasa heran dan sedikit aneh, berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.”

Kemudian berkatalah Daniel kepada kepala keluarga istana yang telah diangkat khusus untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: “Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.”

Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih sayang malalui pemimpin pegawai istana itu. Didengarnyalah permintaan mereka, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. Selengkapnya baca di Daniel 1. Bersambung!

error: Content is protected !!