Sukacita-ku Sukacita-mu atau Sukacita-Nya?

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4:4.

Penyejuk Jiwa – Surat Filipi menempati urutan buku ke 11, dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Baru. Para theologian juga orang-orang yang tekun mendalami Firman Tuhan, sering menjuluki “Filipi” ini sebagai surat sukacita. Sudah barang tentu julukan ini datang dari isi surat Filipi yang hanya terdiri dari 4 fasal dan 104 ayat, namun 12 diantaranya menawarkan “sukacita” yang sebenarnya.

Sebelum menjalani proses kanonisasi, surat Filipi ini melalui ilham dari Allah ditulis oleh Paulus dan ditujukan pertama kali kepada umat-umat Tuhan di kota Filipi. Lebih menarik jika membaca Alkitab khususnya yang  berlatar belakang sejarah termasuk surat “Filipi” dengan menggunakan peta. Di sana  akan kita lihat bahwa Filipi terletak di pinggir laut berarti kota pelabuhan. Kitapun tidak boleh lupa bahwa jemaat yang ada di kota itu didirikan oleh Paulus saat perjalanan missionarinya sebelum surat ini ditulis. Di kemudian hari rasul yang bersemangat ini mendengar berita dimana umat-umat Tuhan yang ada di jemaat Filipi mulai terpengaruh dengan situasi pelabuhan dengan banyaknya tawaran-tawaran sukacita yang semu. Kita sebut semu karena ada banyak perkara yang disangka orang membawa sukacita tetapi ujungnya menuai dukacita. Saya yakin anda dan saya dapat melihat hal-hal seperti ini khususnya di kota-kota yang terletak di pinggir laut bisa itu dalam bentuk bisnis, dan juga paktek-praktek amoral. Ini telah dimulai sejak zaman rasul-rasul, termasuk di Filipi.

Itulah sebanya dengan jelas Rasul Paulus menulis suratnya ke jemaat Filiipi dan menegaskan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Hanya sukacita dalam Tuhan yang benar-benar mendatangkan kesejukan jiwa dan pikiran, sudah barang tentu mempengaruhi kesehatan jasmani. Puluhan tahun sebelum surat Filipi ini ditulis, sebenarnya Yohanes sudah mencatat bagaimana Yesus menetapkan formula yang sama untuk kita nikmati.

Demikian rasul Yohanes menuliskan firman dari Yesus Kristus, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14:27. Tentu kita tidak boleh lupa bahwa sukacita, damai sejahtera bahkan bergembira adalah kondisi kehidupan yang sinonim. Oleh sebab itu perhatikan bagaimana Alkitab memberikan kepastian untuk menikmatinya sesuai dengan ayat-ayat renungan ini.

Belum lama berselang, hampir semua media sosial meliput satu peristiwa pembunuhan seorang wanita pekerja sex komersial. Pelakunya adalah seorang lelaki yang punya isteri dan seorang anak yang masih kecil. Pekerja sex komersial yang saat itu jelas disebut namanya ketika mengungkap peristiwanya, selalu menawarkan diri melalui twitter yang sedang trends sekarang ini. Pendek cerita terjadilah hubungan sexual diluar nikah, melalui awal pertemuan bahkan transaksi di dunia maya bersama lelaki yang kemudian berujung pembunuhan. Mungkin di anatara pembaca mengetahui kejadian ini.

Suami penyeleweng yang disebut juga oleh para jurnalis berdasarkan fakta, adalah seorang yang berpendapatan pas-pasan. Mengapa dia melakukan penyimpangan itu walaupun tahu itu salah? Sudah barang tentu untuk satu tujuan  menemukan sukacita. Kalaupun dia menemukanya, namun itulah sukacita yang semu, karena bertentangan dengan kehendak Tuhan dan akhirnya berujung dukacita. Inilah salah satu contoh dari segudang peristiwa yang lain, bahwa sukacita atau damai sejahtera yang diberikan oleh dunia selalu berujud dukacita. Maka Yesus bersabda, “apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.”  Nikmati sukacita, damai sejahtera dari Yesus kristus.

error: Content is protected !!