SMART Plan-Dari Alkitab

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Lukas 14:28-32

Renungan Harian – Pertama-tama kita uraikan dulu apa yang dimaksud dengan SMART Plan pada renungan ini, agar para pembaca lebih terfokus melihat hubungannya dengan ayat Alkitab di atas. Hal ini tidak lain dari bobot  menyusun suatu rencana, sebagaimana digulirkan oleh pakar-pakar managemen misalnya Peter Druckers dan lain-lain. Adapun arti dari singkatan tersebut ialah,  SMART-(Specific, Measurable, Attainable, Relevant and Timely). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menysusun satu rencana harus memperhatikan faktor-faktor berikut yaitu, spesifik, dapat diukur agar memungkinkan untuk dicapai, relevan dan berjangka waktu.

Jika para tokoh management telah menguraikan teori ini mulai pada abad kesembilan belas, namun firman Tuhan telah menulisnya sekitar dua ribu tahun silam. Malahan Alkitab memberikan contoh melalui dua proyek yang tergolong raksasa, agar jangan sampai salah menyusun rencananya. Yang pertama membangun sebuah menara, dan kedua menghadapi musuh dalam peperangan. Mengapa kita berani menyebut keduanya sebagai proyek raksasa karena menelan biaya yang cukup besar, dan jika salah merencanakan bisa berakibat fatal. Itulah sebabnya firman Tuhan mengutarakan langkah-langkah smart dengan duduk lebih dahulu membuat anggaran dan pertimbangan-petimbangan yang matang.

Alkitab di sisi lain juga mengutarakan konsep perencanaan yang harus disikapi, merupakan bagian dari SMART-Plan. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Roma 12:3 Inilah juga yang kurang dianut oleh beberapa perusahaan baik itu dalam bentuk yang lebih kecil yakni keluarga maupun individu. Tidak sedikit yang harus gulung tikar dalam arti bangkrut atau terpuruk karena tidak mewaspadai nasehat itu.

Saat ini kita berada di zaman serba kredit. Segala sesuatu mudah diperoleh dengan sistem installment atau cicilan. Mulai dari perkakas sederhana sampai barang-barang mewah. Rayuan para petugas marketing pun amat pawai merangsang orang-orang hingga tergiur membeli tanpa memperhitungkan antara kemampuan dengan membayar bunga yang tinggi. Kadangkala pertimbangan ini dilindas oleh motif memiliki barang karena keinginan bukan kebutuhan. Belum lagi nafsu persaingan antar sesama yang kini sedang merajalela. Masih banyak lagi yang lain yang akhirnya merongrong kemampuan seseorang untuk menguasai diri. Banyak yang kemudian harus angkat tikar pulang kampung karena dililit hutang, dan barang-barng yang sudah sempat dicicil harus disita. Tidak sedikit kenalan saya yang mengalami hal sedemikian. Semua karena gagal menerapkan nasihat Tuhan di Roma 12:3 secara khusus, dan ayat terkait lain secara umum. Mari kita ingat sejarah dan latar belakang kehidupan para milyarder dunia. Pada umumnya dimulai dengan modal dengkul, mengumpulkan sen demi sen sampai meraih kedudukan sebagai orang terkaya di dunia. Semua karena ditopang oleh perencanaan yang smart. Salah satu diantaranya adalah  Warren Buffett. Pendiri dari Berkshire Hathaway Inc. itu memulai hidup sebagai penjual surat kabar. Dari hasil keuntungan itulah dia menabung sampai mampu membeli saham. Buffett telah terbiasa menahan diri dari rasa cemburu apalagi iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Terbukti setelah dia menempati posisi orang terkaya di dunia beberapa tahun yang lalu, mobil yang di beli lima puluh tahun silam tetap dipertahankan, demikian rumah yang baginya tetap ideal. Baginya adalah lebih baik mendonasikan uang untuk kemanusiaan ketimbang digunakan semata-mata demi kemewahan. Jadilah umat Tuhan yang SMART! Kuasai diri menurut ukuran iman.

error: Content is protected !!