Sikap Ironis Raja Herodes

Kemudian ia (Herodes) menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Matius 2:7:8

Penyejuk Jiwa – Masih seputar sikap raja yang memerintah di Judea, saat mendengar berita kelahiran Mesias di Betlehem, di wilayah kekuasaannya. Pada renungan kemarin kita telah menyimak sekaligus merenungkwian tindakan sadis Herodes, mengeluarkan perintah membunuh anak-anak usia dua tahun ke bawah di seluruh Betlehem. Perintah tersebut dilaksanakan oleh para serdadunya dengan tidak manusiawi, sehingga Betlehem berubah dari rumah roti menjadi lembah tangisan ketika itu. Tanpa menghiraukan konsekwensi perbuatannya, Herodes merasa kedudukannya aman oleh berbuat demikian. Namun firman Tuhan menyatakan, hanya hitungan bulan setelah tindakan anarkis tersebut, Herodes sudah mati.

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Matius 2:19,20. Bagian ini akan kita lihat pada renungan berikut saat menekuni sejarah perjalanan orang majus, sebagai sosok yang harus menyita perhatian setiap orang yang mengakui Yesus lahir ke dunia sebagai Penebus dan Juruselamat.

Apa yang kita simak dari kehidupan raja Herodes khususnya saat menyikapi kabar kelahiran Mesias dalam konteks renungan hari ini, telah merasuki jiwa manusia mulai dari lapisan marginal hingga kalangan istana. Anehnya sifat-sifat seperti itu lebih  merasuki para tokoh agama sepanjang zaman tidak peduli agama apapun itu termasuk yang selalu mengklaim diri mereka yang benar. Itulah sebabnya agama itu sepertinya terpelanting jauh dari hakekat idealnya sebagai sumber solusi. Karena malah menjadi penyebar issu pertentangan yang menimbulkan perpecahan. Agama manakah di dunia ini yang tidak mencanangkan damai bahkan ada kata damai yang termaktub dalam nama agama itu sendiri. Benarlah apa yang dilantunkan penyanyi dalam liyrik sebuah lagu, “Memang lidah tak bertulang tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.” Yesus melalui firman-Nya sangat tegas menegor siapa saja yang menyatakan diri pengikut Dia, namun tenggelam dalam kepurapuraan alias munafik.

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Matius 23:28

Bukan kah itu yang terkandung dalam diri Herodes ketika berpesan kepada orang majus? “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Bayangkan, pernyataan di bibir untuk menyembah, pada hal di hati bersarang niat membunuh atau memusnahkan. Sungguh terbalik bukan, dimana ironisnya melebihi arah seratus delapan puluh derajat. Di sinilah kita semua perlu sadar bahwa sikap ini ada di dalam diri seseorang yang yang mengaku di bibir akan menyembah Mesias ketika Dia lahir. Hendaknya jangan pernah terulang dalam diri kita saat merayakan kelahiran sang Juruselamat.

Setiap kedatangan anda dan saya ke hadirat Tuhan, apakah itu pertemuan-pertemuan ibadah harian, mingguan, bulanan atau tahunan seperti merayakan natal misalnya, harus berani sejujurnya berkata kepada-Nya,

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Mazmur 139:23

Jika tidak ada keberanian menghampiri Tahta Kemurahan Kristus dengan kommitmen seperti itu, Dia berkata lebih baik tunda dulu, demikian Yesus berfirman, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Matius 5:23,24

Semua ibadah natal yang saya ikuti termasuk melalui liputan media sosial pada bulan ini, tetap menekankan makna kelahiran Mesias yakni damai, damai, dan damai. Termasuk presiden RI bapak Jokowi, saat mengahdiri perayaan natal nasional di Tondano Minahasa Utara, pada hari Selasa, 27 Desember 2016 menekankan hal yang sama melalui sambutan natal beliau. Marilah kita semua memaknai pertama, dalam diri pribadi kemudian itu akan menjalar ke seluruh lapisan.

error: Content is protected !!