Sentosa Di Era Hedonisme

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12:15

Pengertian  Hedonisme

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama. Itu diimplementasikan dengan bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran tidak peduli apakah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali saja, sehingga ingin merasakan senikmat-nikmatnya. Dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan inilah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,”Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.”

Mari kita bermeditasi sejenak sekaligus menganalisa kedua pernyataan di atas, satu melalui pernyataan Alkitab (Firman Tuhan), sedangkan yang lain adalah pandangan manusia. Membaca Lukas 12:15 secara sepintas memang bisa menimbulkan kesan di hati  bahwa ayat ini tidak normal. Dimanakah kita  menemukan seseorang di muka bumi ini dapat bertahan hidup, tanpa sumber atau katakanlah mata pencaharian?  Paling sedikit mereka menjadi pengemis bukan. Akan tetapi, jika parameter yang digunakan hanya sedangkal itu tentulah ayat tersebut benar-benar tidak normal. Namun Firman Tuhan tidak pernah salah, sering penyebab kesalahan itu hanya karena manusia tidak membaca dan memikirkanya secara akal sehat. Kita ambil saja contoh di republik ini yakni beberapa tokoh yang telah wafat seperti Soeharto, Ibu Tien, TD. Pardede, Bob Sadino, dll yang telah meninggal bukan karena kehabisan harta kekayaan. Malahan tidaklah berlebihan jika kita sebut, sekiranya nyawa bisa disambung dengan harta kekayaan masih tersedia cadangan milik mereka sampai puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Kenyataan inilah yang membuktikan kebenaran dari Lukas 12:15…sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu,”  dan tidak seorangpun yang dapat menyangkal ini bukan.

Lalu bagaimana halnya dengan Hedonisme?

Apapun itu dalam hidup ini jika menempuhnya dilatarbelakangi oleh hawa nafsu hasilnya akan selalu menyusahkan dan berujung penderitaan. Itulah yang dialami oleh kebanyakan para muda-mudi masa kini sehingga dihanyutkan oleh gelombang hidup yang menerpa seperti pergaulan bebas, minuman keras dan sejenisnya, narkoba, bahkan adalagi LGBT yang akhir-akhir ini cukup mengancam. Semua itu didasari oleh tujuan kebahagiaan pada awalnya, namun akibatnya sungguh mengerikan karena banyak di antaranya mengalami korban jiwa. Semua ini terjadi secara penomenal dilingkungan masyarakat kita. Itulah hedonism.

Mari kita bertanya kepada diri kita dan jawabanya akan mendorong kita untuk mencari kesujukan jiwa yang sesungguhnya seperti pemazmur, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Mazmur 42:6 Kelegaan jiwa hanya karena berharap kepada Allah. Dan ini tentu harus diujudkan melalui ibadah yang sejati. Jaminan yang pasti menikmati kenyamanan di era hedonisme.

error: Content is protected !!