Semerbak Wangi Suatu Kerukunan

Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Mazmur 133:1-3.

Renungan Harian – Pasal ini termasuk bagian dari bab pendek di Alkitab karena hanya terdiri dari tiga ayat. Namun isinya mencakup bagian yang amat luas dan penting dalam kehidupan manusia lengkap dengan analoginya sehingga gampang dicerna pengertiannya. Sudah barang tentu semua bagian dari Kitab Suci memuat kandungan-kandungan berharga dengan bobot yang sama nilainya, namun ada penekanan-penekanan khusus sesuai dengan aspek kehidupan yang diungkapkan masing-masing pasal atau perikop.

Mazmur 133 ini secara spesifik mengupas tuntas perihal “kerukunan” dikalangan saudara bersaudara. Kita sebut “mengupas tuntas” sebab memang demikian adanya. Mari kita cermati interpretasinya agar melihat kejelasan yang sesungguhnya tentu tujuanya agar teraplikasi dalam kehidupan bermasyarakat dimana kita ada.

Kata “saudara-saudara” (brethren bhs Inggris) menurut beberapa kamus termasuk encyclopedia bisa itu dalam lingkungan,

     1. Satu keturunan orang tua, misalnya satu kakek nenek.
2. Dalam ikatan warga seperti RT, RW, Kelurahan sampai ke skop yang lebih luas yakni negara.
3. Ikatan kepercayaan seperti agama, kultur (budaya).
4. Ikatan suku yang membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inilah secara umum yang telah dapat mengartikan bahwa setiap manusia yang hidup dibawah kolong langit ini, satu sama lain memiliki ikatan persaudaraan. Hampir semua mukadimah perundangundangan negara di dunia ini mengariskan prinsip ini sebagai acuan kemerdekaan, keamanan, kedamaian dan ketertiban bernegara khususnya, dan dunia pada umumnya.

Kemudian pemazmur menguraikan dengan jelas akan nilai kerukunan itu dengan gambaran “baik, indah,” dan ada tiga hal penting yang lain yang mana kita harus menelusuri  latar belakang, sehingga pengertiannya lebih mengesankan.

Pertama,Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.”  Kalimat ini harus menggiring ingatan kita ke bait suci zaman perjanjian lama dengan upacara korban sehari-hari. Harun adalah salah seorang Imam yang bekerja melayani orang-orang berdosa yang datang ke ke bait suci. Setiap memimpin upacara harian tersebut, apabila Imam maupun Imam Besar yang akan masuk ke bilik suci apalagi ke bilik yang mahasici harus lebih dahulu mengoleskan minyak harum ke rambut mereka bahkan sampai meleleh ke janggut dan leher jubahnya. Jenis minyak tersebut adalah “Narwastu” yang semerbak harumnya dapat tercium sampai ke mana-mana dan juga bertahan lama. Inilah parfum yang sampai sekarang masih ada yang dikemas di negara-negara Timur Tengah dengan harga yang sangat mahal. Itulah yang dipakai oleh Harun yang disebutkan pada ayat di atas.

Kedua, “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.”  Pada zaman Perjanjian Lama, gunung Hermon selalu dipenuhi embun setiap hari walupaun jarang turun hujan. Ketika diadakan observasi alam ternyata didapati di lereng gunung tersebut ada lobang besar yang membentuk sungai bawah tanah keluar menjadi mata air besar di Assyria belahan selatan. Itulah yang mengairi wilayah pertanian yang sangat subur di kawasan kerajaan itu.

Ketiga, “Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”  Inilah kalimat yang berisi pernyataan puncak tentang arti kerukunan yang ada di kalangan saudara bersaudara. Dengan ketiga latar belakang ini sebnarnya pikiran kita sudah dapat menangkap dengan jelas akan makna kerukunan dalam bentuk ikatan apapun kita berada di dunia ini. Akan tetapi kesan yang lebih diteil, selanjutnya akan kita lihat melalui renungan berikut.

error: Content is protected !!