Semarak Christmas

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Lukas 2:10,11

Penyejuk Jiwa – Di bulan Desember tahun 1995 telah berselang dua puluh satu tahun yang lalu, masih segar dalam ingatan saya saat diundang menghadiri satu acara perayaan natal. Diadakan di satu gedung bergengsi di bilangan Senayan disemarakkan oleh paduan-paduan suara dari berbagai daerah dan koor gabungan waktu itu, juga para artis penyanyi Kristen Ibu kota. Banyak hal yang menarik perhatian baik liturgi acara yang dikemas, termasuk ornamen dekorasi ruangan hingga boleh dikata cukup megah. Bagi para pembaca yang mungkin turut hadir ketika itu tentu melihat palungan disamping panggung didesain sedemikian rupa dapat berputar hingga hadirin bisa menyaksikan semua sisi dilengkapi dengan lampu-lampu sorot warna warni. Belum lagi pohon natal yang cukup tinggi dan besar berdiri di depan panggung. Menurut pengumuman ketua panitia penyelenggara waktu itu, seluruh biaya perayaan berkisar 1,2 miliyar rupiah. Termasuk lah itu upaya panitia yang menyediakan transportasi dari beberapa penjuru Jakarta untuk mendatangkan pengunjung. Dapat kita bayangkan acara perayaan malam itu juga dihadiri oleh kepala negara RI bersama dengan isteri.

Fenomena seperti itu amat lazim kita saksikan pada momen bulan Desember di mana-mana. Mungkin di Indonesia belum terlalu luar biasa jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang penduduknya mayoritas Kristen seperti Filipina, Amerika Serikat maupun di benua Eropah. Bukan saja hanya di gedung-gedung termasuk di rumah tinggal terlihat warna yang sama. Tidak heran menjelang bulan seperti ini, para pedagang telah mengerti memanfaatkan situasi dengan memproduksi atau menjual segala perlengkapan natal yang kelihatannya semakin meningkat keragaman dan mutunya dari tahun ke tahun. Saya kaget membaca liputan media sosial baru-baru ini dengan adanya satu pohon natal serharga lima ratus juta rupiah. Tentu masih banyak hal-hal lain yang mungkin tidak dapat kita tuliskan satu persatu perihal perayaan kelahiran Yesus Kristus yang menjadi Juruselamat dunia.

Mari kita termenung sejenak seraya bermeditasi dan coba bertanya, “Seperti itukah hakekat kedatangan Sang Penebus sehingga lahir ke dunia menjadi manusia meskipun diawali dengan kehinaan?” Lahir di palungan, dengan arti kandang binatang yang telah lama tidak digunakan. Jika menurut salah satu kamus Bahasa Inggeris, arti palungan atau manger ialah tempat di mana tidak ada lagi yang lebih hina dari itu. Di situlah Yesus lahir dengan alasan yang sungguh memilukan, karena tidak ada orang yang mau berkenan menerima-Nya, Lukas 2:6,7. Akan tetapi giliran manusia memperingati-Nya diwarnai kemewahan secara dunia dengan mengeluarkan dana yang amat fantastis jumlahnya. Di bidang mana kira-kira Allah dimuliakan dan ditinggikan dalam cara seperti itu. Dijauhkan Tuhan kiranya dari benak kita semua, niat mencari kesalahan dalam segala perkara. Tujuannya hanya mau mengembalikan pikiran anda dan saya kepada missi kedatangan Juruselamat agar berjalan di atas rel kebenaran yakni Firman-Nya.

Di awal kedatangan-Nya yang pertama ke dunia melalui kelahiran, Yesus Kristus segera mewariskan tujuan yang mulia kepada pengikut-Nya baik para rasul ketika itu, sudah barang tentu kepada kita sekarang ini setiap merayakan natal.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4:18,19

Apa yang telah ditandaskan dalam firman di atas, itulah hakekat kebenaran mengapa Yesus lahir ke dunia menjadi manusia. Itu jugalah yang seharusnya termaktub dalam setiap tata ibadah memperingati kelahiran-Nya. Bukan malah mengalokasikan dana yang cukup besar untuk sesuatu yang nantinya terbuang percuma, karena Yesus tidak dimuliakan di dalamnya. Pernahkah kita bayangkan berapa banyak orang-orang miskin, terindas, buta rohani, belum pernah mendengar berita datangnya tahun rahmat Tuhan, yang masih berada di luar gereja akan tertuntun mengenal Juruselamat seandainya uang sebanyak itu digunakan menyentuh mereka dengan kasih Kristus. Itulah missi yang meninggikan Yesus. Sering orang salah kaprah, sangkanya meninggikan Yesus, nyatanya sarat dangan motivasi meninggikan diri sendiri. Berharap Yesus berdaulat dalam hati namun dihadang oleh tembok kesombongan yang mengelilingi diri. Mari kita camkan Dia yang berfirman, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Yohanes 12:32  

error: Content is protected !!