Segala Sesuatu Awali Dengan Mengucap syukur

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yohanes 6:11

Penyejuk Jiwa – Saya berkeyakinan, masih segar dalam ingatan para pembaca kisah yang kita simak melalui renungan kemarin ketika Yesus memberi makan sekitar sebelas sampai duabelas ribu orang hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan sesuai catatan rasul Yohanes. Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya sehubungan dengan peristiwa yang sama berdasarkan tulisan penginjil Matius, demikian disebutkan.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Matius 15:32

Tenyata telah tiga hari mereka setia mengikuti Yesus karena tertarik dengan kabar baik melalui setiap firman yang Dia sampaikan, hingga tidak peduli dengan rasa lapar. Itulah rupanya salah satu kenyataan sebagaimana Yesus pernah ungkapkan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4:4 Namun demikian Yesus dengan kasih kepedulian-Nya tidak membiarkan mereka sampai menderita sakit untuk pulang ke rumah masing-masing apalagi jika sampai pingsan di jalan. Memang biasanya, apabila ada momen yang membuat kita terharu dan terkesan, bisa tidak menyadari perut yang keroncongan akan tetapi setelah itu barulah merasakan efeknya. Itulah sebabnya Yesus menjamu mereka hingga kenyang sepuasnya bahkan membawa bekal pulang, dari kelebihan makanan. Yohanes 6:12.

Sebagai konklusi dari perikop ini marilah kita petik beberapa kesan dan pesan rohani yang amat perlu kita renungkan dan sekaligus menjadi pedoman sementara menelusuri perjalanan musafir kita di dunia yang fana ini.

  1. Rasul yang selalu pesimis. Menyaksikan dan mengalami sendiri keajaiban yang dilakukan Yesus, belum cukup ampuh menyadarkan mereka kepada setiap perintah sang Guru mereka. Padahal setiap hari para rasul ini selalu melihat dengan mata kepala sendiri kenyataan-kenyataan bahwa, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” Lukas 18:27. Untunglah, akhirnya mereka sadar buktinya di kemudian hari tampil menjadi rasul-rasul pemberani dalam memberitakan injil, hingga di antara murid-murid itu banyak yang mati martyir.
  1. Anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan. Alkitab tidak mencatat berapa usia anak itu, namun aktivitasnya membuktikan bahwa ia sedang bertumbuh remaja. Bagi orang Yahudi apabila seorang anak yang ditugasi mengolah makanan dan membawanya kepada pekerja di ladang apakah itu orang tua atau yang lain, berarti ia telah meliwati masa kanak-kanak. Usia seperti itu sudah mulai merasa tertarik dengan khotbah-khotbah apalagi yang menyampaikannya sepiawai Yesus, yang dia dengarkan ketika itu. Khotbah yang sempat dia simak meyakinkan dia hingga roti dan ikan yang dia bawa diserahkan kepada Yesus dan itulah awal dari kepuasan semua orang yang hadir. Apa yang terjadi selanjutnya. Ketika anak itu tiba di ladang, orang tuanya merasa terperanjat dari mana anaknya mendapatkan makanan sebanyak itu. Karena dari kelebihan makanan yang didapat saat itu kepadanya diberikan dua belas kali lipat untuk dia bawa. Sudah barang tentu anak itu menceritakan selengkapnya apa yang dia saksikan dan alami, itu pulalah yang menarik perhatian orang tuanya kepada Yesus yang telah tersiar di wilayahnya. Dan bukan hanya itu, penduduk sekitar mengalami kesan yang sama karena semua kelebihan makanan yang dua belas bakul dibagibagikan kepada warga setempat.

Dapat kita bayangkan seandainya si anak tidak mau menyerahkan bekal yang dia bawa kepada Yesus. Tidak mungkin akan ada pemaksaan namun ia tetap memiliki sejumlah yang ia bawa. Begitu dia menyerahkannya dengan setulus hati kepada Yang Maha Kuasa, maka hasilnya ia memperoleh dengan berkelimpahan. Hal yang sama berlaku bagi setiap orang yang mempercayakan segala yang ia miliki kepada Yesus. Bukan hanya kita yang menikmati kelimpahan tetapi orang lain juga akan ikut merasakan dan mereka akan mengasihi Yesus melalui pelayanan kita. “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Pengkhotbah 11:1   

error: Content is protected !!