Sebuah Batu Kecil

Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu. Yesaya 38:17.

Penyejuk Jiwa – Seorang tukang bangunan memanjat ke atas tembok yang tinggi di gedung yang sedang mereka kerjakan. Ketika dia berada di posisi tersebut, ada pesan penting yang harus disampaikan kepada kerabat kerjanya di bawah. Dia mencoba berteriak-teriak dengan keras namun temannya tidak dapat mendengar karena suaranya hilang ditelan kebisingan mesin-mesin dan alat pertukangan lain yang sedang beroperasi. Oleh sebab itu ia mencoba melemparkan uang logam di depan sahabatnya, dengan maksud menarik perhatiannya agar menoleh ke atas. Ternyata mendengar suara dentingan uang logam tersebut temannya berhenti sejenak dan melihat uang logam itu serta memungutnya kemudian dia bekerja kembali.

Tiba-tiba pekerja yang di atas tadi mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkan ke bawah dan tepat sekali mengenai kepala temannya. Karena sedikit merasa sakit barulah dia menengadah ke atas seraya melihat kode temanya, sambil menjatuhkan secari kertas yang berisi pesan.

Sering kali hubungan kita dengan Yesus, sama seperti pekerja bangunan itu. Setiap hari kita mendapat berkat, baik kecil maupun berkat besar namun sering lupa kepada Pemberinya. Ada begitu banyak pesan-pesan yang mau disampaikan oleh Tuhan melalui firman-Nya, akan tetapi kita mengabaikan karena rutinitas hidup sehari-hari ditelan oleh kesibukan pribadi. Padahal kita tidak menyadari bahwa pesan-pesan itu berisikan janji berkat yang lebih besar. Terpaksa Tuhan harus berbicara kepada kita melalui lemparan batu kecil yang kadangkala menyakitkan, barulah kita menengadah ke atas. Lemparan batu kecil dalam kehidupan ini bisa itu dalam bentuk masalah, badai, gelombang yang menerpa.

Memang ada sesuatu yang sedikit aneh tapi nyata, jika diperhatikan dalam kehidupan berjemaat dan sudah menjadi budaya rohani yang harusnya tidak demikian. Setiap kesaksian saat ibadah baik itu di gereja maupun kumpulan-pumpulan lain, jika ada permohonan doa syafaat selalu didominasi oleh karena seseorang ditimpa penyakit, kecelakaan, musibah, kemalangan dan lain masalah. Dan inipun sudah barang tentu merupakan sikap individu hingga terbawa ke perkumpulan. Bukankah kita lebih banyak berdoa kepada Tuhan, datang lebih dekat pada-Nya saat menghadapi masalah. Hampir tidak pernah ada usulan doa ucapan syukur kerena mendapat berkat-berkat. Hal ini sebenarnya tidak Alkitabiah, dan bukan juga hakekat kekristenan. Firman Tuhan mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” I Tesalonika 5:16-18.

Dalam keadan apaun itu, baik susah, maupun senang kita harus datang kepada Tuhan bersyukur, dan itulah yanng Dia kehendaki. Dan di saat bersikap seperti itulah jiwa kita mendapat ketenangan dan kesejukan. Renungkan bagaimana Yesaya seorang nabi yang banyak mengalami penderitaan bahkan sampai mati digergaji, namun mengaku bahwa “penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku.”

Seringkali Allah ingin berbicara kepada kita melalui firman-Nya, agar menikmati janji-janji-Nya yang lebih menyenangkan. Akan tetapi anda dan saya terlena dengan kehidupan hura-hura melalui berkat yang kita dapat. Jangan menunggu sampai mendapat lemparan batu kecil agar datang kepada-Nya. Yesus tetap menunggu dan menunggu di pintu hatimu dan hatiku, kapan kita membukanya lau Dia akan masuk memberikan kelegaan. Mengapa Yesaya mampu bersikap seperti itu, tidak lain karena dia selalu membuka pintu hatinya bagi Tuhan. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” Ibrani 4:7.

error: Content is protected !!