Saya Adalah Dari Apa Yang Saya Makan!

Berbahagialah engkau tanah, kalau rajamu seorang yang berasal dari kaum pemuka, dan pemimpin-pemimpinmu makan pada waktunya dalam keperkasaan dan bukan dalam kemabukan! Pengkhotbah 10:17.

Renungan Harian – Sebelum menguraikan lebih lanjut peranan dari jenis makanan yang dikonsumsi untuk kesehatan, ada istilah yang selalu terdengar menyangkut klasifikasi kehidupan sosial masyarakat perihal makan. Kategori itu menyebut seperti ini,

  1. Besok kita makan apa? Inilah kategori masyarakat yang hidup pas-pasan sehingga apa yang akan dimakan siang hari, dicari dulu di waktu pagi demikian seterusnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok ini, banyak ditemukan di tengah masyarakat terlebih di negara-negara yang masih underdeveloped dan mungkin juga ada di sekitar kita. Maka setiap individu maupun anggota keluarga harus bertanya setiap hari bisa saja kepada diri sendiri, “Besok makan apa?”
  2. Besok kita makan di mana? Kelompok seperti ini sudah dalam kategori hidup yang mampu bervariasi, mungkin bosan makan di rumah atau di restoran yang itu ke itu, perlu mengubah cita rasa dengan bahasa trends “wisata kuliner” yang kini sedang marak di mana-mana terlebih pada malam hari. (Padahal inipun sesungguhnya tidak lagi mendukung untuk kesehatan jasmani).
  3. Besok kita makan siapa? Dalam kategori ini bercampur baurlah sudah. Bisa tercetus dari para pebisnis besar berkaliber mafia, ataupun para penjahat kelas kakap. Pada umumnya kelas inilah yang menjadi konsumen di restoran bahkan hotel-hotel mewah termasuk cafe yang menawarkan aneka jenis makan mewah dan lezat. Sekalipun kadang-kadang “dalam tanda kutip” tanpa memperhitungkan faktor penunjang kesehatan. Sudah barang tentu harganyapun selangit.

Di kelas manapun anda dan saya berada pada kategori di atas, tidaklah menentukan kesehatan tubuh ini, karena yang menjamin sehat tidaknya seseorang bukan kelas sosial, tetapi sangat tergantung kepada  apa yang dimakan. Malahan banyak fakta membuktikan bahwa kelompok kategori no. 1 tadi lebih banyak yang menikmati hidup sehat dari pada dua yang lain. Ini bisa masuk di akal sehubungan dengan amaran fiman Tuhan setiap menghadapi hidangan.

Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu.  Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu. Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Amsal 23:1-4.

Perhatikan dengan seksama bagaimana Tuhan memberikan nasihat-Nya secara sistematik. Duduk makan dengan seorang pembesar, sudah pasti menghadapi hidangan yang lezat dengan kwantitas yang tidak mungkin kekurangan. Pada umumnya yang duduk sehidangan dengan deretan pembesar adalah orang-orang kaya. Maka ayat itupun mengamarkan orang-orang yang yang berniat apalagi jika  sampai bersusah payah memperolehnya. Konteks perikop ini secara keseluruhan adalah faktor penunjang kesehatan. Itulah sebabnya Khalik Pencipta berulang-ulang mengingatkan, agar setiap anda dan saya duduk di meja makan terlebih dengan para pembesar, apakah itu pesta dalam segala bentuk dan latar belakangnya. “Perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu!” di dasari oleh rasa kasih sayang Tuhan khususnya di bidang ini, terpaksa Dia sedikit lebih keras mengingatkan. Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu. Lagi-lagi kita diingatkan kepada sesuatu yang pasti demi kesehatan, walapun berlawanan dengan kebiasaan umat manusia, yang selalu cenderung memanjakan selera saat memilih makanan.  Ingat!!!!!!! Saya adalah dari apa yang saya makan. Kesehatan adalah harta kekayaan yang tidak ternilai harganya, dan untuk itu kita akan lihat kenyataanya pada renungan berikut.

error: Content is protected !!