Sarungkan Pedangmu

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” Matius 26:52,53

Renungan Harian – Ada dua kitab injil yang menulis peristiwa ini, berdasarkan liputan mereka masing-masing ketika turut menyaksikan dengan mata kepala sendiri, yaitu Matius dan Yohanes. Itulah detik-detik penyaliban Yesus dimana serombongan prajurit bersama imam besar dan hamba-hambanya telah siap sedia mau menangkap Dia. Beberapa murid Yesus sedang berada dikerumunan pada waktu itu termasuk Petrus yang membawa sebilah pedang. Melihat sang Guru yang dia hormati akan ditangkap, saat itulah Petrus tak mampu menguasai emosinya dan rasul Yohanes menuliskan demikian,

Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Yohanes 18:10

Alkitab tidak mencatat apakah Petrus melakukan tindakan itu karena memang semata-mata terdorong emosi ataukah dia ingin tampil sebagai seorang pahlawan. Namun temperament rasul yang satu ini menurut catatan injil bisa saja  membenarkan kedua-duanya. Apapun yang menjadi alasan tidak satupun yang dapat dibenarkan menurut firman Tuhan. Itulah sebabnya Yesus menegor dia dengan mengatakan, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Kemudian Yesus melanjutkan teguran-Nya dengan ungkapan filosofi penebusan,  Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”

Peristiwa inilah yang harus menerangi mata rohani kita bahwa Allah Bapa, anak-Nya Yesus Kristus dan Rohulkudus tidak membutuhkan pembelaan manusia. Malahan oknum Keilahian itulah yang membela kita umat-umat-Nya.

Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. Ulangan 10:17. Walaupun ada hal penting yang perlu disadari di sini yaitu, jangan memaksa Tuhan melakukan pembelaan-Nya sesuai keinginan kita. Biarkan Dia yang bertindak berdasarkan keadilan-Nya.

Kitab “Kisah Para Rasul” mencatat salah satu pengalaman seorang hamba Tuhan yang pernah di angakat dan diurapi menjadi salah seorang deacon bersama dengan tujuh sahabatnya yang lain. Namanya stefanus. Fasal 6:5 menuliskan alasan mengapa mereka memilih Stefanus karena ia, “seorang yang penuh iman dan Roh Kudus.”  Dengan diangkatnya ketujuh orang deacon tersebut ada pertumbuhan penginjilan yang pesat di mana Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Hasilnya semakin nyata atas pelayanan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Akan tetapi begitulah lazimnya dalam hidup ini yang namanya sebuah progress (kemajuan) selalu merupakan dua sisi mata koin dengan problem (masalah). Umumnya itu disebabkan oleh faktor kepentingan diri, kecembururan dan iri hati. Sungkan rasanya mengakui keberhasilan orang lain meskipun itu dicapai karena berjalan di atas rel kebenaran. Dan sikap buruk ini merasuki semua elemen masyarakat termasuk agama.

Itulah yang dihadapi Stefanus dari pihak yang iri hati, sehingga tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka ingin menjatuhkan stefanus melalui forum dialog tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya karena Roh yang mendorong dia berbicara. Alkitab di fasal yang sama menjelaskan bahwa kelompok radikalis waktu itu mencari upaya yang lain menyerang Stefanus karena mereka tergolong mayoritas di wilayah Yerusalem. Lalu mereka menghasut (mempropakasi) beberapa orang untuk maju sebagai saksi-saksi palsu dengan   mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.”

Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Kisah Para Rasul 6:1-13.

Ada satu kesan phenomenal dalam diri Stefanus ketika dia berada di hadapan Makamah Agama, “Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.” Ayat 15. Itu terjadi, tentu karena kuasa Tuhan.

Kita tahu alur kisah ini, seperti diutarakan di fasal selanjutnya. Saat berhadapan di Mahkamah Agama Stefanus tak gentar sedikitpun menyatakan kebenaran, bahkan berani menemplak pola kepemimpinan tokoh agama tersebut yang semata-mata mengedepankan kepentingan pribadi maupun kelompok. Meskipun untuk tugas mulia itu Stefanus harus membayar mahal dengan darahnya sendiri karena akhirnya, “Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya.” Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. Kisah Para Rasul 7:58-60. Itulah iman Kristen sejati yang perlu hidup masa kini dan seterusnya.

error: Content is protected !!