Rahasia Hidup Berkecukupan

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. I Timotius 6:6-8

Di zaman hedonisme sekarang ini, kebanyakan orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan dengan caranya masing-masing dan secara umum mendasarkan kebahagiaan itu di atas materi. Dalam hal ini tentu uanglah sebagai substansi utamanya. Di celah-celah ambisi mengejar harta kekayaan muncul pula virus mental yang lebih merusak yakni kecemburuan sosial sehingga menghanyutkan banyak orang ke lautan persaingan di berbagai aspek. Kadangkala menjurus ke arena persaingan yang ketat yaitu pemikiran jangan sampai ketinggalan dari orang lain. Dalam artian jangan sampai mereka lebih hebat. Apabila keinginan seperti itu diupayakan melalui usaha-usaha proporsional tanpa melanggar rambu-rambu, tentu wajar-wajar saja. Akan tetapi kenyataan di kalangan masyarakat menjadi saksi hidup dimana semakin banyaknya kalangan “The Have” yakni orang-orang yang punya, menjadi penghuni kamar di balik terali besi alias penjara. Mereka terpaksa harus berhadapan dengan penegak hukum walaupun sebenarnya telah berkelimpahan, namun akibat dari sifat ketamakan yang berlebihan akhirnya menjadi tahanan di Lembaga Pemasyarakatan. Tidak sedikit di antara mereka kemudian harus dijatuhi hukuman mati.

Kenyataan seperti inilah yang kurang dipertimbangkan kebanyakan orang, bahwa tidak ada kecukupan jika itu dilihat dari dari sudut pandang ekonomi. Manakala seseorang mulai merasa “jika ada ini, jika ada itu barulah tercapai kebahagian,” sesungguhnya dalam pola pikir seperti itu dia sedang berada di ambang bahaya. Mengejar kebahagiaan dengan cara itu akan sama dengan mengejar bayangan, sampai kita mati terengah-engah namun yang dikejar tak kunjung ditemukan.

Itulah sebanya Allah yang Maha Pengasih itu selalu menuntun manusia ciptaan-Nya melalui firman sebagai formula kebahagiaan yang sejati. Berjuanglah sampai tiba di level hidup yang merasa cukup dengan apa yang ada. Dan itu hanya didapat melalui ibadah yang murni. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13:5,6. Lebih spesifik lagi injil Lukas menulis,

Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Lukas 3:14

Berulang-ulang Firman Tuhan  banyak memberikan nasihat seperti ini di berbagai lembaran Alkitab, mengapa? Karena Allah yang kita sembah itu menginginkan anak-anak-Nya menikmati “kebahagiaan sejati” yaitu merasa cukup dengan apa yang ada.

Dr. Shigeaki Hinohara, yang sekarang telah berusia 105 thn dan masih hidup di Jepang, ketika memberikan tip sebanyak 14 item rahasia panjang umur salah satu di antaranya dia sebut, “Jangan mabuk dengan harta. Tidak ada yang tahu sampai kapan anda hidup, dan andapun tidak dapat membawa apa-apa pada saat meninggal.” Hidup lebih lama dan sehat seperti Hinohara, hanya dinikmati oleh mereka yang berbahagia sesuai Firman Tuhan yaitu hidup berkecukupan yang sebenarnya.

Ada sebutan, “Kebahagiaan bertambah bukan karena semakin banyak yang dimiliiki, tetapi karena hati.”

error: Content is protected !!