Pusat Pengaduan Secara Alkitabiah

Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. Ayub 5:8.

Renungan Harian – Mungkin dari semua tokoh Alkitab yang dicatat, Ayub lah satu-satunya yang punya pengalaman mengagumkan dalam menjadikan Tuhan sebagai pusat pengaduan. Terlepas dari penilaian masing-masing pembaca, saya berani menyebut demikian, setelah mendalami bagaimana abdi Allah ini saat ditimpa pahit getir kehidupan yang tak terbandingkan, kehilangan semua yang dimiliki, terlebih lagi derita penyakit yang mengerikan, namun tetap teguh dalam iman. Terbukti dari perkataannya yang berasal dari sanubari yang dalam mencetuskan, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1:21. Luar biasa komitmennya kepada Yang Maha Kuasa. Cobalah telaah seluruh buku Ayub, pasti kita merinding merenungkanya. Kemudian tempatkan diri anda diposisi Ayub di atas penderitaanya, niscaya kitapun akan tergiring untuk mengakui sekaligus mengambil keputusan untuk menjadikan Tuhan pusat pengaduan segala perkara, sama seperti Ayub.

Tidak heran diakhir pergolakan hidupnya dengan kemenangan gemilang, Alkitab mencatat kenikmatan yang dia peroleh sebagai berikut,

TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Diseluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Ayub 42:12-16.

Pengalaman-pengalaman seperti ini kita kemukakan berulang-ulang hanya bertujuan untuk  mengingatkan anda dan saya bahwa pusat pengaduan dalam segala perkara yang kita hadapi hanyalah Allah. Itulah formula penyejuk jiwa, kenyamanan hidup dan kesentosaan. Ibarat strukturisasi pemerintahan atau organisasi, takhta Allah di Sorga adalah kantor pusat, semua yang ada di dunia ini hanya cabang-cabang. Apapun yang kita hadapi langsung laporkan ke kantor pusat, nanti Allah yang mengatur atau memerintahkan cabang-cabang yang ada untuk mengatur bantuan yang kita butuhkan. Jangan terlalu percaya apalagi bergantung kepada apa yang ada di dunia ini. Memang banyak didapati, adanya institusi-institusi, perusahaan, maupun organisasi dengan julukan kantor pusat. Dari sisi management itu benar dan mestinya demikian, namun hindari berpengharapan hanya ke sana.

Mari kita ambil salah satu contoh. Perusahaan “Lehman Brothers” Bank investasi raksasa di dunia, telah berjaya selama 158 tahun. Semua mata selalu tertuju ke salah satu bangunan megah di New York City, Amerika Serikat dengan tulisan, Head Office: LEHMAN BROTHERS – Kantor Pusat: LEHMAN BROTHERS. Akan tetapi semegah apapun “kantor pusat” di dunia ini, sesukses apapun pihak pengelola menangani, tidak ada yang dapat menjamin kelangsunganya di hari kemudian. Nyatanya bank investasi keempat terbesar di Ameika Serikat itupun akhirnya gulung tikar. Pada tanggal 15 September 2013 yang lalu tepatnya hari Senin waktu setempat, pihak perusahaan terpaksa menyerahkan formulir kebangkrutan kepada United States Bankruptcy Court for the Southern District of New York. Bayangkan akibat yang lebih luas dari kebangkrutan ini. Kantor pusat yang kekal hanya di tahta Allah, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:7.

error: Content is protected !!