Pilih Lezat atau Sehat?

Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu. Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu. Amsal 23:1-3.

Penyejuk Jiwa – Salomo yang menulis firman ini melalui ilham Allah, adalah seorang sastrawan yang pernah memerintah sebagai raja selama 40 tahun. Sebagai kepala pemerintahan dalam kurun waktu begitu lama, tentu banyak pengalamanya menghadiri pesta termasuk undangan dari kerajaan sekitar. Dari situlah dia mengamati pola makan orang-orang, bahwa cita rasa (selera) selalu menjadi ukuran utama untuk memilih santapan, sedangkan faktor-faktor penunjang kesehatan sering diabaikan.  Itulah alasan mengapa Firman itu mengatakan, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu.” Yang dimaksud dengan kata “menipu” disini ialah adanya kandungan-kandungan dalam makanan lezat tersebut yang dapat merusak kesehatan.

Ada sebutan yang masih populer hingga sekarang ini, “Menggali kuburan dengan sendok dan garpu.” Artinya pola makan seseorang sangat menentukan apakah untuk kesehatan atau menderita sakit kemudian mati. Namun orang-orang gelojoh dengan nafsu makan yang serakah mengimbanginya dengan mengatakan, “Lebih baik mati makan, daripada mati karena tidak makan!” Mungkin itu hanya pelesetan karena tidak mampu mengekang hawa nafsunya, akan tetapi saat tiba giliran menderita sakit bahkan stroke, pasti menyesal. Apa hendak di kata, penyesalan selalu datang terlambat.

Dalam kapasitas sebagai pelayan jemaat bertahu-tahun, saya menyaksikan pengalaman orang-orang seperti itu. Di atas gelimang harta kekayaan makan ini-itu, tanpa pertimbangan kesehatan, semata-mata hanya kepuasan selera, dan tiba-tiba stroke. Terpaksa berobat berpindah-pindah rumah sakit yang dirasa lebih berkualitas sampai ke luar negeri, setelah menghabiskan semua uang tabungan membiayai perawatan akhirnya meninggal dunia. Bukankah anda juga menyaksikan hal seperti ini menimpa orang-orang di sekitar kita? Problemanya justru lebih dimonopoli oleh mereka yang berduit, sehingga rumah-rumah sakit dan lembaga pengobatan bertumbuh di mana-mana dan semua selalu dipadati para pasien. Belum lagi ancaman berbahaya dengan maraknya penjualan makanan berformalin, borax dan lain sejenisnya berhubung para pedagang hanya semata-mata bermotif keuntungan tanpa memperdulikan keselamatan konsumen. Mereka hanya terpaku kepada prinsip ekonomi, “Memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha (modal) sekecil-kecilnya.”

Inilah sebenarnya makna yang disajikan firman Tuhan melalui Amsal 23:1-3. Jika duduk makan, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu. Konsep ini sangat berperan penting, bukan saja ketika menghadapi makanan tetapi lebih lagi pada saat berbelanja di pasar. Semua orang pasti mengaku bahwa kesehatan merupakan harta kekayaan yang tidak ternilai harganya. Apapun harta yang dimiliki jika tubuh sakit-sakitan semua itu serasa hampa tanpa arti. Namun giliran mempertahankanya melalui pola hidup sehari-hari di sana orang sering mengalami kegagalan. Faktor selera (nafsu) sering menjadi raja dalam hal makan dan minum. Salomo telah menyaksikan itu saat dia menjadi orang nomor satu selama 40 tahun di kerajaan Israel.

Perhatikan dengan cermat pengungkapan Firman Tuhan selanjutnya, menyangkut dengan pola hidup umat manusia sepanjang zaman dalam Filipi 3:18, Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

Semoga anda dan saya tidak termasuk di kelompok seperti itu, melainkan selalu mengedepankan kepentingan kesehatan ketimbang kelezatan.

error: Content is protected !!