Pertengkaran Dan Perkelahian Tidak Akan Mendapat Apa-Apa

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Yakobus 4:2.

Penyejuk Jiwa – Ada salah satu contoh “Majas Perumpamaan” dalam Bahasa Indonesia yang menyebutkan, “Seperti anjing berebut tulang.” Adapun arti luas dari majas tersebut menggambarkan setiap pertengkaran, ibarat anjing merebutkan tulang. Misalkan seseorang melemparkan sepotong tulang hewan di tempat yang ada beberapa ekor anjing. Dipastikan anjing yang punya kekuatan hampir sama akan berebutan sampai habis-habisan, berkelahi dengan serius, sambil gigit-gigitan dan bisa saja sampai ada yang terluka. Seekor anjing yang ternyata memenangkan pertarungan akan berhasil membawa tulang yang direbut ke tempat terasing dan merasa akan menikmatinya. Ternyata gigit sana gigit sini, putar sana putar sini, tidak ada yang dapat dinikmati berhubung hanya sebongkah tulang betis sapi yang sudah tua. Pernah ditemukan seekor anjing karena letihnya memperjuankan sepotong tulang, padahal tidak ada yang dapat dinikmati sebagai pengganti tenaga, anjing tersebut mati lemas.

Demikian jelasnya “majas perumpamaan” dalam Bahasa Indonesia mengibaratkan pertengkaran apalagi bila menjurus kepada perkelahian, bagaikan anjing-anjing berebut tulang. Hanya kesia-siaan.

Dikisahkan satu keluarga yang sederhana mempunyai tiga orang putra. Ketika si ayah sudah berusia lanjut merasa tidak lama lagi menemui ajalnya, dia ingin mewariskan harta peninggalan berupa 19 ekor kerbau kepada ketiga anaknya. Dengan bijaksana dia mewasiatkan pembagian warisan tersebut dengan forsi masing-masing sebagai berikut:

-Anak pertama mendapat ½ bagian
-Anak kedua mendapat ¼ bagian dan
-Anak ketiga mendapat 1/5 bagian.

Setelah sang ayah meninggal dunia, ketiga anaknya sepakat membagi kerbau warisan sesuai dengan pesan ayah mereka demikian:

-Anak pertama mendapat bagian ½ x 19 = 9,5 ekor
-Anak kedua mendapat bagian ¼ x 19 = 4,74 ekor
-Anak ketiga mendapat bagian 1/5 x 19 = 3,8 ekor

Dari hasil pembagian inilah mereka bertiga mulai menemukan kesulitan karena masing-masing bersikukuh untuk mendapatkan jumlah kerbau yang utuh dengan pembulatan angka ke atas tanpa ada kerbau yang harus dipotong-potong. Terjadilah pertengkaran sengit di antara mereka karena tidak ada seorangpun yang mau mengalah. Semua berusaha mendapat bagian yang utuh padahal harta peninggalan yang dibagi hanya 19 ekor kerbau. Begitu sengitnya perang mulut yang terjadi sampai kedengaran kepada seorang tetangga yang lebih miskin dengan hanya memiliki seekor kerbau.

Didorong oleh rasa keprihatian akhirnya sang bapak itu menemui mereka menyodorkan solusi dan bersedia dengan ikhlas memberikan kerbaunya satu-satunya agar masing-masing anak mendapat bagian yg utuh, maka jumlah kerbau yang akan mereka bagi menjadi 19+1=20 EKOR. Tentu ketiga anak yang maruk itu setuju dan merasa senang, tanpa mempedulikan bahwa bantuan yang mereka peroleh datang dari seorang ayah yang lebih miskin dari mereka.

Mulailah diadakan pembagian setelah adanya solusi yakni tambahan seekor lagi, tetap sesuai dengan forsi yang ditentukan oleh ayah mereka. Tentu demikianlah hasilnya:

-Anak pertama mendapat bagian 1/2 x 20 = 10 ekor, tadinya 9,5 ekor
-Anak yang kedua mendapat bagian 1/4 x 20 = 5 ekor, tadinya 4,74 ekor
-Anak yang ketiga mendapat bagian 1/5 x 20 = 4 ekor, tadinya 3,8 ekor

Demikianlah setiap anak mendapatkan bagian yang utuh sudah barang tentu merasa puas. Yang membuat mereka terperangah setelah mengetahui jumlah pembagian bersama 10 + 5 + 4 dan ternyata totalnya tetap 19. Tentu ajaib bukan? Ketiganya tertunduk malu di depan bapak miskin, karena pertengkaran mereka yang sengit hanya karena tidak ada yang mengusap dada bersabar mencari jalan keluar dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang. Akhirnya bapak miskin yang bijak itu mengambil kembali kerbaunya seraya berucap: “Lain kali sikapi setiap masalah dengan lapang dada dan berdoa, sebab susungguhnya tidak ada yang perlu dipersoalkan dalam hidup ini, semua itu hanya karena keserakahan dan emosi. Sadari, bahwa keserakahan sering menutup mata pikiran kita menjadi gelap.”

Mari kita lihat beberapa pesan moral melalui kasus ini. Pertama, benarlah apa yang dinyatakan Firman Tuhan, tidak ada keuntungan yang didapat dari pertengkaran, perkelahian bahkan sampai pembunuhan selain dari kerugian di berbagai sisi kehidupan. Kedua, semua yang dijalani melalui doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, disitulah solusi kita temukan. Ketiga, percayalah jika kita memberi dengan ikhlas untuk menjadi bagian dari solusi, ternyata kita tidak kehilangan sesuatu apapun, malah memberi manfaat bagi sesama dan Tuhan akan menggantikan semua itu. Sadarlah dan berjagajagalah, karena pertengkaran, perkelahian apalagi pembunuhan hanya bagai anjing berebut tulang. Anda dan saya tidak akan mendapat keuntungan apa-apa dari dalamnya.

error: Content is protected !!