Pertanggungjawaban Kepada Firman Tuhan

Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. Ulangan 18:19.

Renungan Harian – Inilah ketegasan Allah kepada para pengikutnya untuk berjalan di rel yaitu Firman Kebenaran-Nya. Kita menyebutnya rel karena sesuai dengan pernyataan Tuhan dimana perjalanan rohani para pengikut-Nya disamakan seperti kereta api. Sedikit saja keluar dari rel pasti anjlok. Namun selama melintas di rel yang disediakan Allah dipastikan akan selamat sampai di tujuan. Oleh sebab itu jangan pernah menjalani rel-rel buatan manusia kecuali Allah telah mengatur dengan baik dalam segala Firman-Nya. Perhatikan bagaimana Tuhan sendiri menyatakan akibat-akibatnya. Jika seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.

Sekalipun kedengaranya Allah seperti begitu keras memperingatkan para pelaku firman, terlebih lagi   mereka yang bertugas menyampaikan, tidak lain tujuanya hanya satu. Yaitu kebahagiaan bagi setiap orang yang menurut. Yesus sendiri yang memberikan jaminanya.

Tetapi Yesus berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”  Lukas 11:28.

Atas dasar inilah maka Tuhan melalui firman-Nya mengeluarkan pesan penutup dibagian akhir kitab suci sebagaimana kita dapat membacanya dalam Wahyu 22:18,19,

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Apa yang telah difirmankan dalam seluruh Kitab Suci, semuanya sudah merupakan kesempurnaan tabiat Kristus yang diharapkan menjadi karakteristik dari setiap pengikutnya. Tidak boleh ditambah dan juga dikurangi.

Ada contoh kehidupan seorang nabi bernama Bileam yang tidak mengindahkan pesan Tuhan dalam penyampaian Firman-Nya. Kejadianya dicatat di Bilangan 22. Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: “Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.” Ayat 20   Peringatan ini diucapkan Allah karena mengetahui bahwa Bileam akan berangkat menuju perkemahan untuk mengutuki bangsa Israel, karena mendapat sogok dalam jumlah besar dari raja Moab bernama Balak. Sesuai kolusi mereka berdua, Bileam harus menyampaikan kata-kata kutuk itu di hadapan orang-orang Moab, barulah imbalan yang dijanjikan akan diserahkan.

Untuk mencegah itulah keluar Firman Tuhan di atas kepada Bileam. Gantinya mengucapkan  kutuk, Tuhan memerintahkan agar Bileam menyampaikan kata-kata berkat dan itu harus didengar oleh bangsa Moab. Dapat kita bayangkan posisi dilemmatis Bileam ketika itu, nabi yang materialis lebih mengedepankan kepentingan pribadi ketimbang kebenaran Firman Allah. Dia tetap bersikukuh hendak melawan  Allah demi uang dan berjalan. Disanalah Tuhan akhirnya menggunakan keledainya sendiri untuk menasihati Bileam. Inilah catatan sejarah Alkitab dimana seekor binatang digunakan Tuhan mensihati seorang nabi karena kedegilan dan keserakahanya, yang tidak mengindahkan Firman Tuhan.

error: Content is protected !!