Pertahankan Kejujuran

Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin. Yesaya 33:15,16.

Langkah kesembilan: Pertahankan Kejujuran.

Penyejuk Jiwa – Sipakah yang merasa enggan menjalankan sesuatu jika sudah ada jaminan, terlebih jika jaminannya   dari Yang Maha Kuasa. Namun pernyataan seperti ini telah menjadi satu anekdot dan bahan tertawaan sekalipun di kalangan orang-orang yang menyebut diri umat beragama. Kadar pengaruh firman ini bisa saja bagaikan setitik air yang jatuh ke tengah samudera luas, sehingga maknanya tidak lagi memiliki peluang dalam hati manusia. Mungkin tidaklah terlalu berlebihan jika ini kita sebut melalui sebuah renungan yang bernuansa Firman Allah, karena ada bukti-buktinya. Saya yakin masih segar dalam ingatan kita semua hasil audit departemen terkait di republik ini beberapa tahun lalu bahwa praktek korupsi alias ketidakjujuran justru didapati paling tinggi di departemen agama. Ini kenyataan bukan!

Perhatikan alur dari ayat renungan hari ini disusun berdasarkan sistematika kehidupan yang pasti dan Allah sendiri tentu yang memberi jaminan. Pada saat disebutkan secara berurut beberapa karakteristik perilaku, kemudian dikondisikanlah itu dengan perkara-perkara yang akan dinikmati jika dilaksanakan. Bukankah menjadi dambaan semua orang untuk tinggal nyaman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu, makanan dan air minumnya terjamin? Alkitab menyatakan bahwa jalan menuju ke sana tidaklah sukar. Tekuni saja hidup ini dengan benar dan jujur walaupun Yesaya lebih menjabarkanya lagi secara lengkap pada ayat di atas, dengan berwujud “happy ending.”

Yang sering menghantui pikiran orang-orang khsusnya di era hedonisme ini adalah faktor instan yang sudah merasuki seluruh aspek kehidupan. Makanan hendaknya siap saji tanpa pertimbangan kesehatan. Promosi jabatan maunya melejit, sekalipun menempuhnya harus menghalalkan segala cara. Demikian di dunia pendidikan adanya usaha mendapatkan degree (titel) melalui jalur cepat, tidak peduli meskipun di kemudian hari menuai masalah karena ASPAL (Asli atau Palsu). Yang sangat menonjol  sekarang ini, ialah  ambisi agar cepat kaya walaupun hasil korupsi. Padahal semuanya berujung kesengsaraan karena harus ada yang meringkuk di balik terali besi, dan ada juga yang terpaksa di hukum mati.

Seandainyapun ada dari antara perilaku kejahatan tersebut, terluput dari pengawasan ranah hukum, namun percayalah hasilnya akan tetap tidak membawa bahagia. Survey dari pakar-pakar sisiologi telah membuktikanya. Apa yang firman Tuhan nyatakan, adalah jaminan yang pasti. Tak habis-habisnya lembaran renungan ini jika diangkat pengalaman orang-orang yang menikmati ketenteraman hidup atas kejujuranya, demikian juga sebaliknya oknum-oknum yang menuai sengasara akibat keserakahan. Semua ini ada di depan mata kita, kiranya dengan demikian hendaknya kita semua memilih mempertahankan kejujuran.  Tentukan pilihanmu sekarang!

error: Content is protected !!