Persembahan Yang Tertinggi Nilainya

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Roma 12:1

Penyejuk Jiwa – Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah, bukan berarti membakar diri sendiri di atas mezbah korban bakaran. Pengertian yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah menyerahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang majus. Jikalau seseorang telah memberikan hatinya kepada Yesus, niscaya akan membawa persembahan kepada-Nya. Emas dan perak yang kita miliki, harta benda duniawi yang termahal, segala karunia rohani yang teringgi nilainya yang ada pada kita akan kita serahkan kepada Dia yang mengasihi kita dan yang telah menyerahkan diri-Nya sendiri bagi kita.

Sebaliknya ada orang yang memberikan persembahan kepada Allah tetapi tidak menyerahkan hatinya. Berarti ada faktor-faktor lain yang mendorong dia melakukanya, seperti popularitas, cari nama dan kedudukan, apalagi yang disebut dengan cari muka. Bukankah itu yang telah dilakukan oleh akhli-akhli torat, imam-imam, guru-guru atau rabi-rabi, bahkan Herodes sendiri. Harus masih segar dalam ingatan kita semua bagaimana Herodes dengan sopan berpesan kepada orang majus supaya memeriksa mengenai anak itu (Yesus) dengan seksama, apabila telah menemukan Dia, kabarkan kepadaku, supaya akupun datang menyembah Dia. Padahal sementara mengatakan itu, dalam hatinya sedang berkecamuk badai kemarahan dengan segala akal bulus ingin membunuh Mesias Raja orang Yahudi yang lahir itu, karena dianggap mengganggu kedudukannya. Tanpa mereka sadari sifat-sifat itulah yang menjadi biang keladi datangnya malapetaka menimpa orang-orang Yahudi di     Betlehem termasuk kematian Herodes yang mengerikan.

Seandainya mereka berjalan dengan kesetiaan dan kerendahan hati di hadirat Allah, niscaya dengan satu cara yang luar biasa Tuhan akan meredakan murka raja hingga tidak membahayakan mereka. Akan tetapi mereka telah memisahkan diri dari Allah dan menolak Rohulkudus sebagai perisai satu-satunya. Mereka mempelajari Alkitab bukan untuk hasrat melakukan kehendak Allah. Malahan menyelidiki nubuatan-nubuatan yang dapat ditafsirkan, semata-mata bertujuan meninggikan diri sendiri dan untuk menunjukkan betapa Allah membenci bangsa-bangsa lain. Mereka senatiasa membanggakan bahwa Mesias akan datang sebagai raja, menaklukkan segala musuh-musuh-Nya, serta menginjak-injak segenap bangsa kafir dalam murka-Nya. Karena mereka salah menafsirkan dan melukiskan pekerjaan Kristus, maka rencana Setan hendak melaksanakan kebinasaan Juruselamat berbalik menjadi bencana yang menimpa kepala mereka sendiri. Yang menanggung derita akibat kegeraman Herodes dengan membunuh anak-anak dua tahun ke bawah di Betlehem hanyalah orang Yahudi sebagai penduduk asli setempat. Rumah tangga yang tenteram di kota Daud itu terpaksa menyaksikan peristiwa yang menyayat hati seperti telah dinubuatkan enam ratus tahun sebelumnya kepada nabi Yeremia, Yeremia 31;15.

Tindakan kekejaman itulah salah satu kejadian terakhir yang menodai pemerintahan Herodes. Menurut hemat raja yang boleh disebut biadab itu, dengan melakukan tindakan tersebut merasa pasti bahwa Mesias Raja orang Yahudi yang telah lahir akan ikut terbunuh. Mata rohaninya telah dibutakan oleh ambisi keserakahan dan haus kedudukan. Tidak lama sesudah pembunuhan terhadap anak-anak yang tidak berdosa itu, ia terpaksa menyerahkan diri ke dalam malapetaka yang tidak dapat dielakkan oleh seorang jua pun. Herodes mengalami kematian yang sungguh mengerikan.

Lalu bagaimana dengan bayi Yesus yang masih ada di Betlehem saat itu? Firman Tuhan menjelaskan lebih lanjut.

Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka (orang majus) ke negerinya melalui jalan lain. Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Matius 2:12-15

Kembali kita diingatkan kepada perkara-perkara yang amat hakiki melalui kenyataan ayat itu. Apa yang telah direncanakan oleh Tuhan, tidak ada kekuatan apapun yang dapat menghalangi terlebih jika itu menyangkut keselamatan anda dan saya. Kemudian yang berikut, semua yang telah digariskan dalam firman-Nya apalagi hal-hal yang bersifat nubuatan akan terjadi tepat waktu sesuai dengan kehendak-Nya. Mari kita camkan ini, khususnya umat yang sedang menantikan kedatangan-Nya, bukan lagi yang pertama dengan kelahiran, melainkan kali yang kedua menjemput kita dari dunia yang penuh kesusahan ini.

error: Content is protected !!