Pergumulan Dan Pengharapan

Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan mereka bicarakan dengan tinggi hati.  Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. Mazmur 73:1-15.

Renungan Harian – Bilamana kita simak kalimat-kalimat yang bernada pergumulan yang tercetus dari pikiran seorang abdi Allah, maka hal yang sama tentu sering sebagai pengalaman kita dalam perjalanan rohani ini. Dimana pun kita berdomisili, kemanapun kita menoleh selalu dapat berjumpa dengan oknum-oknum, seperti yang disaksikan oleh Asaf pada masa hidupnya. Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau kita sebut bahwa pemandangan seperti itu malah lebih merajalela sekarang ini, berdasarkan bukti nyata. Bukankah semua orang mengetahui bahwa dalam keadaan mereka yang bergelimang harta dari hasil kejahatan tidak segan-segan lagi kelompok itu mengatakan secara terang-terangan, “hari ini kita makan siapa?” Relevan juga  memang dengan yang terjadi di zaman Asaf seperti dia tulis pada Mazmur tersebut di atas.

Itu sebabnya perikop ini sengaja kita bagi menjadi dua bagian agar jangan berhenti sampai di ayat 15, karena nama Abdi Allah inipun tidak akan pernah kita temukan dalam Alkitab seandainya alur pikiranya berhenti di situ. Mari kita lihat tindakan Asaf selanjutnya pada ayat berikut yang menghasilkan pergumulan berwujud pengharapan,

Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina. Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya. Ayat 16-28.

Ketika Asaf merasa kebingunan menyaksian penglihatan yang ironis itu, dan terdorong untuk mengetahui kelanjutanya, dia pergi ke dalam tempat kudus Allah. Artinya dia tetap beribadah. Disanalah ia mendapat jawaban yang sangat menguatkan. Tuhan memperlihatkan bahwa nasib orang-orang yang sempat dia cemburui ternyata jatuh berkeping-keping hancur seketika dan binasa. Lalu bagaimana dengan Asaf sendiri? Dia selalu dekat dengan Allah, mendapat perlindungan dari pada-Nya, dan mempunyai banyak pengalaman indah bersama Tuhan yang dapat diceritakan untuk menguatkan orang lain. Inilah solusi yang terbaik manakala kita pernah dihadapkan seperti pengalaman Pemazmur. Jangan berhenti bersekutu dengan Tuhan melalui ibadah.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Demikian Firman Tuhan dalam Ibrani 10:25.

error: Content is protected !!