Percaya Kepada Perintah Yesus Adalah Solusi

Kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Yohanes 6:10

Renungan Harian – Masih seputar kejadian di tepi Danau Tiberias ketika Yesus memberi makan banyak orang dengan lima roti jelai dan dua ekor ikan namun berlebih sampai 12 bakul. Pemeran utama dalam pesta yang ajaib itu sudah barang tentu Yesus dan itulah yang akan kita simak sebagai “konklusi yang ketiga.”

Bukan saja hanya para rasul, tentu khalayak ramai yang hadirpun ketika itu masih diliputi keraguan bercampur heran akan adanya pengumuman untuk makan namun tak seorang pun yang melihat adanya persediaan makanan. Malahan ada lagi sisi lain yang bisa memancing orang untuk pesimistis dimana perlengkapan makan seperti piring sendok dan lain-lain juga tidak ada seperti lazimnya satu perhelatan besar. Sekiranyapun hanya bertitik tolak secara literal (tertulis) yakni 5000 orang hanya laki-laki seperti ayat renungan ini (Yoh. 6:11), bukankah itu sudah tergolong pesta besar-besaran. Catatan firman Tuhan menyebutkan jumlah 5000 itu hanya laki-laki, sementara setiap kerumunan orang di mana-mana tidak mungkin hanya laki-laki apalagi kalau itu bernuansa ibadah sudah pasti lebih banyak perempuan. Ini hanya memastikan imajinasi kita bahwa sesungguhnya jumlah hadirin pada waktu itu paling sedikit sepuluh ribu orang. Apakah perkara yang mudah untuk mejamu makan sepuluh ribu orang? Bagaimana sekiranya anda dan saya duduk diperhimpunan seperti itu, “Percayakah kepada pengumuman MC mengatakan giliran makan sedangkan makanan dan peralatan yang diperlukan tak kunjung kelihatan?”

Akan tetapi para pembaca yang dikasihi Tuhan, disitulah letak kesuksesan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang diselenggarakan selama tiga hari dimana Yesus sebagai pembicara tunggal. Semua yang dikhotbahkan Juruselamat dunia itu, yang bersumber dari Alkitab dicerna dengan baik oleh para hadirin sehingga mereka tidak lagi meragukan perintah Yesus pada saat itu. Rasa kepesimisan audiens termasuk murid-murid-Nya terkikis seketika melalui kuasa firman-Nya. Buktinya, ketika para rasul diperintahkan untuk menyuruh orang-orang duduk, mereka melakukannya dengan baik terhadap seluruh hadirin. Dan saat hadirin yang banyak itu diminta untuk duduk, maka duduklah orang-orang itu meskipun hanya di atas rerumputan. Tidak seorangpun baik rasul maupun hadirin yang mengatakan, “Apa-apaan duduk, wong ngak ada makanan kok!” Alkitab mencatat tidak ada sama sekali respon seperti itu. Semua yakin kepada perkataan Yesus Kristus melalui iman mereka yang sedang bertumbuh.

Akhirnya Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Baik makanan maupun peralatan semuanya terpenuhi sebanyak yang mereka kehendaki. Sebab tidak mungkin mereka makan dengan meletakkan makanan hanya di tangan masing-masing, apalagi mereka menerima jumlah yang sesuai dengan yang mereka kehendaki. Yesus tidak pernah melakukan sesuatu dengan tanggung-tanggung. Bagaimana mungkin orang menikmati makanan apalagi duduk di atas rumput jika tanpa wadah sebagai tempat makanan. Kita berkeyakinan itu pun semuanya tersedia secara ajaib.

Itulah mujizat yang Yesus perbuat dan mujizat yang sama dapat berlaku bagi setiap orang terlebih-lebih saat menghadapi krisis, kuncinya, “Percaya melakukan perintah Yesus maka solusi akan selalu tersedia dari tangan-Nya.”

Seringkali orang-orang yang menamakan diri pengikut Yesus Kristus mengkaji perintah-Nya dengan logika. Tidak terkeculi para Abdi Allah yang diceritkan dalam firman-Nya, apalagi kalangan umat Kristiani dari zaman ke zaman, selalu terpengaruh menekuni pernyataan Allah berdasarkan pola pikir manusiawi. Sebagai akibatnya banyak orang yang berlari menjauhi Tuhan, dan yang lain lari mendahului Tuhan. Masing-masing menempuh jalanya sendiri-sendiri akhirnya kesasar dan tersesat.

Kenallah Allah dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya. 1 Tawarikh 28:9

error: Content is protected !!