Percaya Bahwa Yesus Adalah Tuhan?

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Roma 10:9.

Renungan Harian – Untuk segala sesuatu di bawah kolong langit ini, bilamana berkaitan dengan penagakuan dan kepercayaan antar dua belah pihak, maka unsur utamanya adalah hati. Istilah ekonomi yang kemudian menjadi bagian dari sistem akuntansi yakni kata “kredit” berasal dari Credere yang artinya percaya. Tidak mungkin terjadi hubungan transaksi apalagi dalam hal perkreditan jika tidak saling percaya satu sama lain. Terlebih dalam corak perekonomian di zaman yang serba konsumtif sekarang ini, hampir semua lapisan masyarakat sangat femiliar dengan istilah “kredit” karena segala sesuatu didapatkan dengan mudah melalui jalur itu yang disebut dengan installment atau cicilan. Bagi siapapun yang sudah pernah menjalani hubungan jual beli dengan cara itu sudah barang tentu mengetahui prosesnya, di mana unsur utamanya adalah kepercayaan.

Sekalipun pihak penyedia barang konsumsi lebih dahulu mengadakan survey kepada pihak pembeli sebagai konsumen, untuk lebih menjamin kelancaran proses installment atau ciciclan tersebut sesuai dengan kurun waktu yang ditentukan, namun tidak jarang terjadi masalah di hari kemudian. Pihak konsumen dengan selengkap perjanjian yang telah ditandatangani, tidak menjunjung tinggi kepercayaan yang telah dibangun, sehingga harus berujung di meja hijau, dan sering terjadi penyitaan atau hukuman penjara bagi pihak yang bersalah.

Demikianlah halnya hubungan manusia dengan Tuhan. Alkitab sangat jelas menggariskan formulanya seperti pokok renungan hari ini, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma  10:9.  Kemurnian hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa, ialah apabila mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati. Hanya melalui proses seperti itu yang mendatangkan keselamatan apakah itu sementara di dunia ini, terlebih untuk mewarisi kerajaan kekal yang disediakan Tuhan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Diceritakan seorang pemuda yang lama bersekolah di negeri paman Sam. Setelah menyelesaikan pendidikanya dia kembali ke tanah air. Setibanya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama atau siapapun yang sanggup menjawab tiga pertanyaannya. Sekalipun sedikit bercampur heran, orang tua pemuda tersebut berusaha mendapatkan seseorang yakni pendeta idolanya selama ini, dengan ide-ide yang brilian menurut dia. Setelah pemuda dan sang pendeta berjumpa maka keduanya terlibat dalam ruang tanya jawab seperti berikut,

Pemuda  : Bapak siapa, dan dapatkah menjawab pertanyaan saya?
Pendeta  : Saya seorang hamba Tuhan dan dengan seizin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda  : Apakah bapak yakin, karena ada beberapa profesor juga orang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan
saya?
Pendeta  : Dengan keyakinan yang sungguh melalui hikmat dari Tuhan, saya akan mencoba menjawab.
Pemuda  : Ok lah, kalau demikian saya akan ajukan ada tiga pertanyaan saya sekaligus yaitu,

  1. Apakah Tuhan itu ada, kalau memang ada tunjukkan wujudnya kepada Saya!
  2. Apakah yang dinamakan takdir?
  3. Kalau setan diciptakan dari api mengapa dimasukkan ke neraka yang terdiri dari api, tentu tidak akan menyakitkan bagi dia sebab memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?

Ketika pendeta diserahi giliran untuk menjawab, dia mendekati pemuda itu dan tiba-tiba “praaak” dia menampar pipi pemuda itu dengan keras.

Pemuda : Kenapa bapak begitu marah kepada saya? (sambil mengelus pipinya menahan rasa sakit).
Pendeta : Sorry anak muda, saya sama sekali tidak marah, namun tamparan itulah yang menjadi jawaban dari ketiga
pertanyaan mu!
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti apa maksudnya?
Pendeta : Baiklah kita mulai, bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit!
Pendeta : Jadi apakah anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda : Ya, tentu dan saya telah merasakanya.
Pendeta : Nah kalau begitu, tunjukkan sama saya sekarang wujud sakit itu?
Pemuda : Saya tidak bisa karena itu hanya perasaan!
Pendeta : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat
wujud-Nya.
Pendeta
: Apakah tadi malam anda bermimpi dan juga hari ini anda berpikir akan mendapat tamparan  dari
saya?
Pemuda : Tidak sama sekali!
Pendeta : Itulah yang dinamakan Takdir.  Walaupun  “Alkitab tidak pernah mengajarkan takdir.”
Pendeta
: Terdiri dari apa tangan yang saya gunakan menampar pipi anda?
Pemuda : Dari tulang dan kulit!
Pendeta : Lalu terdiri dari apa pipi anda?
Pemuda : Sama dari tulang dan kulit!
Pendeta : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit!
Pendeta: Ternyata menyakitkan padahal sama-sama terdiri dati tulang dan kulit.
Pendeta : Walaupun setan terbuat dari api dan neraka juga terdiri dari api, jika Tuhan berkehendak  maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan bagi setan
.

Begitu sederhananya pendeta menjawab pertanyaan pemuda itu yang tadinya bagi dia seperti rumit, namun lebih sederhana dari situlah banyaknya perkara yang dapat meyakinkan kita kepada Allah.

error: Content is protected !!