Peranan Audio Visual Dalam Pembelajaran

Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. Amsal 24:32.

Penyejuk Jiwa – Di dalam dunia pendidikan dikenal satu proses pembelajaran yang sering disebut dengan Metode Belajar Mengajar. Sudah barang tentu metode apapun yang diterapkan dalam hal ini tujuan satu-satunya adalah agar apa yang disampaikan oleh pengajar mudah dimengerti dan lama diingat oleh mereka yang diajar. Untuk mencapai tujuan inilah dicari berbagai upaya apakah cara menyampaikan, gerakan ketika mendemonstrasikan, terlebih lagi alat-alat yang digunakan. Menurut para pakar bidang Didaktik Methodik ini, melalui perpaduan antara Ilmu Pengetahuan dengan Penelitian mereka mendapati hasil yang menakjubkan yang disimpulkan sebagai berikut,

  1. Jika hanya mendengar apa yang disampaikan oleh pengajar, itu dapat bertahan dalam ingatan (memory) selama satu minggu.
  2. Jika mendengar dan melihat (dengan menggunakan Audio Visual), itu dapat bertahan dalam ingatan (memory) selama satu bulan.
  3. Jika mendengar, melihat dan merasakan apa yang diajarkan, itu dapat bertahan dalam ingatan (memory) bertahun-tahun.

Sudah barang tentu data ini berkisar pada rata-rata usia sekolah tingkat menengah di Indonesia. Mungkin saja ada perbedaan hasil temuan para ahli, namun inilah kesimpulan secara umum. Dari sinilah kita dapat mengetahui bagaimana peranan Audio Visual yakni alat mendengar dan melihat agar tersimpan dalam ingatan. Inilah juga yang akan menjadi dasar melakukan tindakan.

Jika para akhli menemukan hal ini dan baru diterapkan di dunia pendidikan khususnya di Indonesia pada pertengahan abad kesembilan belas, namun Firman Tuhan sudah merumuskan jauh sebelumnya.

Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. Amsal 24:32.

Mengapa renungan penyejuk jiwa ini, secara berkesinambungan menyoroti peranan “melihat,” hanya agar kita merasa tersentak dengan kenyataan sekarang ini. Kembali menggaris bawahi hasil penelitian dari Universitas Michigan seperti sudah kita singgung dalam renungan sebelumnya. Anak-anak usia 8-18 tahun menghabiskan waktu 28 jam seminggu di depan televisi, dan 71% mempunyai TV sendiri di kamarnya. Itupun tahun 2010 atau enam tahun yang lalu. Tentu sudah semakin meningkat sekarang ini apalagi dengan adanya hp, ipad, iphone, dll, yang telah familiar dikalangan anak-anak. Bagaimanakah jadinya buah hati keluarga kita ini di kemudian hari, jika tidak ada disiplin yang konsisten dari kita para orang tua. Semua alat-alat elektronik yang sering dijuluki dengan “gadget” itu adalah Audio Visual namun materi pelajaranya didominsai oleh unsur-unsur yang bebahaya, apalagi jika tanpa pengarahan.

Kini dunia maya sedang dihebohkan dengan sebuah jenis game yang disebut “Pokemon Go.” Korban sudah banyak berjatuhan di kalangan pecandunya. Sekalipun pemerintah melalui departemen terkait berupaya membendung, namun percayalah tetap akan bisa didapat melalui aplikasi tersendiri. Jangan pernah berharap bahwa kita maupun anak-anak, akan nyaman karena tidak mungkin menemukanya di peredaran atau market. Yang amat elegan untuk dilakukan ialah tuntun anak-anak dan tentu dimulai dari diri sendiri, menyadari akan bahayanya. Cari dan gunakan Audio Visual untuk menanamkan benih kebenaran Firman Tuhan dalam diri mereka. Jadikan hati dan pikiran kita menjadi lahan subur tempat bertumbuhnya kerinduan bahkan kenikmatan untuk selalu dekat di sisi Yesus Kristus. Sekalipun ini sulit di zaman yang serba tidak menentu ini, namun bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.

error: Content is protected !!