Orang Majus Dari Timur

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Matius 2:1,2

Renungan Harian – Hanya Injil Matius yang mencatat tentang orang majus pada saat mereka datang mengunjungi Betlehem dengan tujuan satu-satunya melihat dan menyembah Yesus Kristus yang telah lahir. Ditulis dalam empat ayat, kemudian tidak pernah lagi disinggung di seluruh lembaran kitab suci. Meskipun informasi Alkitab sedemikian minim namun cerita mengenai kelompok orang majus, merupakan untaian sejarah yang amat hakiki dan mencakup kehidupan umat Kristiani sejati yang cukup luas. Mari kita telusuri lebih rinci baik melalui firman Tuhan maupun sejarah.

Orang majus yang datang dari Timur itu adalah akhli-akhli filsafat. Mereka adalah golongan berpengaruh, bangsawan, memiliki banyak harta dan ilmuan. Sementara orang majus itu mempelajari angkasa yang penuh bintang dan berusaha menyelidiki rahasia yang tersembunyi pada jalan-jalanya yang gemerlapan, nampaklah oleh mereka kemuliaan Khalik. Dalam usaha mencari pengetahuan yang lebih terang, mereka berpaling ke Alkitab Ibrani. Di negeri mereka sendiri ada tulisan-tulisan nubuat yang meramalkan kedatangan seorang mesias dan Perjanjian Lama menyatakan kedatangan Juruselamat dengan jelas. Orang majus itu mempelajari dengan kesukaan bahwa kedatangan-Nya sudah dekat, dan seluruh dunia harus dipenuhi dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan. Mereka telah melihat secercah cahaya ajaib di angkasa pada malam ketika kemuliaan Allah meliputi bukit-bukit di Betlehem. Orang majus itu menyambut baik terang kebenaran yang dikirim dari Surga, kini terang itu dicurahkan atas mereka dengan cahaya yang lebih gemilang. Dengan perantaraan mimpi mereka disuruh mencari Raja yang baru lahir itu. Sebagaimana Abraham dengan iman keluar atas panggilan Allah, dengan tidak mengetahui tempat yang akan dituju, demikianlah orang majus itu berangkat untuk mencari Juruselamat yang telah dijanjikan itu.

Sudah menjadi budaya di negeri orang majus untuk mempersembahkan pemberian sebagai pernyataan hormat kepada raja-raja atau orang-orang yang berkedudukan tinggi lainya, maka pemberian yang paling mahal mereka bawa. Perjalanan yang mereka telusuri cukup jauh diperkirakan kurang lebih delapan ratus kilometer, yang harus ditempuh dengan kenderaan keledai. Sedangkan pejalanan lebih banyak dilakukan pada malam hari agar selalu dapat melihat bintang itu. Setiap waktu beristirahat mereka terus menyelidiki nubuatan, maka keyakinan mereka pun terus bertambah bahwa mereka sedang menikmati pimpinan Ilahi. Perjalanan itu sungguhpun jauh, adalah satu perjalanan yang menyenangkan karena di dalam benak mereka telah terpaku kerinduan yang sangat, menemui dan menyembah Juruselamat yang telah lahir.

Mereka telah tiba di negeri Israel, dan menuruni Bukit Zaitun, Yerusalem sudah kelihatan, bintang yang telah menuntun mereka sepanjang perjalanan yang melelahkan itu berhenti di atas kaabah, dan sesaat kemudian lenyap dari pandangan mereka. Dengan langkah yang penuh pengharapan mereka maju terus, yakin bahwa kelahiran Mesias itu telah menjadi berita hangat yang penuh kesukaan di tempat kelahiran-Nya. Tetapi segala pertanyaan mereka sia-sia saja. Pada saat memasuki kota Yerusalem, mereka pun pergi ke Bait Suci. Dengan penuh keheranan mereka tidak mendapati seorang pun yang nampaknya tahu tentang Raja yang baru lahir itu. Pertanyaan mereka tidak membangkitkan rasa sukacita, malahan sebaliknya tanda rasa heran dan takut, bercampur penghinaan.

Imam-imam tengah mengulangulangi tradisi-tradisi. Mereka meninggikan agama dan peribadatan mereka sendiri, sementara mereka mencela bangsa Yunani dan romawi sebagai orang kafir dan orang berdosa melebihi orang lain. Orang majus itu bukannya penyembah berhala, dan pada pemandangan Allah mereka jauh lebih tinggi daripada imam-imam itu, yang mengaku sebagai penyembah Dia, namun dianggap orang Yahudi sebagai orang kafir. Bahkan di antara para penunggu kelahiran Yesus yang telah ditentukan Kitab Suci, pertanyaan-pertanyaan orang Majus yang penuh harapan gemilang itu tidak juga menjamah hati penduduk Yerusalem.

Kedatangan orang Majus itu segera tersiar di seluruh Yerusalem. Tujuan perjalanan mereka yang dianggap aneh itu menimbulkan kegegeran di kalangan penduduk, selanjutnya merembes ke istana Herodes. Sebenarnya, imam-imam dan para penatua Yerusalem mengetahui hal kelahiran Kristus itu, hanya mereka jadi berpura-pura. Laporan tentang kunjungan malaikat-malaikat kepada gembala-gembala itu sudah disebarluaskan di Yerusalem, tetapi rabi-rabi telah memperlakukannya bagai sesuatu yang tidak perlu mendapat perhatian. Buktinya ketika Herodes memanggil mereka menanyakan fakta tentang kelahiran Mesias, mereka dapat menjelaskan bahkan dari segi nubuatan nabi Mikha. Hanya saja, kesombongan dan iri hati menutup pintu hati mereka terhadap terang itu. Mereka semua beranggapan, sekiranya segala laporan yang dibawa oleh gembala-gembala dan orang Majus itu diakui, itu akan mengundang kebencian masyarakat kepada imam-imam dan rabi-rabi. Itu bisa mengganggu kedudukan mereka sebagai ahli tafsir kebenaran Allah di hadapan raja, rakyat maupun umat. Maka buntutnya tetap soal-soal kedudukan yang berhubungan erat dengan factor-faktor materi. Berhubung bagian yang menyangkut dengan pengalaman orang Majus saat kelahiran Yesus harus banyak menyita perhatian kita semua, maka akan dilanjutkan pada renungan berikut.

error: Content is protected !!