Oleh Melihat Kita Berubah

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. 2Timotius 4:3,4.

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. I Yohanes 2:16.

Renungan Harian – Mari kita analisa ketiga ayat firman Tuhan yang menjadi pokok renungan hari ini. Menurut 2Timotius “akan datang waktunya, orang tidak lagi menerima ajaran sehat.” Tentu ini merupakan perjalanan masa yang tidak ditentukan kapan akan terjadi, namun hanya dapat diketahui berdasarkan penggenapan. Inilah salah satu konsep Alkitab yang sering disebut dengan istilah “Nubuatan” yaitu peristiwa yang  akan terjadi di kemudian hari dan benar-benar digenapi. Agar kita bisa memastikan kapan kira-kira “waktu” yang disebutkan pada ayat di atas, marilah kita menelusuri melalui perjalanan dunia ini dari masa ke masa. Untuk memudahkan pengamatan, harus diingat bahwa ada tiga sikap yang menghantui manusia secara umum, sehingga mengabaikan ajaran sehat. Yaitu keinginan telinga, keinginan mata dan keinginan daging.

Kita ambil saja melalui satu contoh yang amat dominan masa kini yakni “menonton televisi dan media sosial lainya.” Mengapa terfokus kepada media sosial tersebut, karena kita tahu produk dari media inilah pada umumnya berkutat pada keinginan telinga dan keinginan mata.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Michigan di tahun 2010, rata-rata anak usia 2-5 tahun menghabiskan waktu 32 jam seminggu menonton acara televisi, DVD, rekaman DVR, video dan menggunakan perangkat game. Sedangkan anak-anak umur 6-11 tahun menghabiskan 28 Jam seminggu di depan TV. Para peneliti juga melaporkan bahwa 71% anak umur 8-18 tahun mempunyai TV sendiri dikamarnya.  Sedangkan kita tahu sendiri sekarang ini bahwa media teknologi menawarkan lebih banyak cara untuk bisa menonton televisi melalui internet, telepn cellular, ipad dan tablet. 41% siaran televisi sekarang bisa ditonton melalui media alternatif tersebut. Yang paling mengejutkan dari hasil penelitian itu ialah menemukan sebanyak 53% rumah tangga yang mempunyai anak-anak kelas 7 s/d 12 tidak ada peraturan tentang jam-jam menonton televisi. Malahan banyak orang tua menganjurkan anak-anak balita menonton TV sebagai pengganti pengasuh mereka.

Hasil temuan ini baru berkisar pada usia anak dan remaja belum mengutarakan kalangan orang-orang muda yang sedang menanjak dewasa, termasuk para orang tua yang tentunya tidak mau ketinggalan. Atas dasar inilah kita berani menarik kesimpulan bahwa “waktu yang akan datang” sebagaimana disebut di ayat renungan di atas adalah sekarang. Mengapa? Untuk menjawabnya mari kita menoleh sejenak kepada sajian-sajian dewa bermata satu itu (televisi). TV bersama denga media sosial lainnya lebih fokus kepada pembuatan film-film yang menampilkan kekerasan, pembunuhan dan sex, sehingga membuat keindahan dan kedamaian tidak biasa dan seolah-olah jarang terjadi dalam kehidupan nyata.

Acara televisi sering menggambarkan satu realita terentu dan satu kehidupan yang berbeda dengan pola hidup orang Kisten yang sesungguhnya. Televisi sering kali memberitahukan kita bahwa kebahagiaan didapat terutama karena memiliki harta dunia, popularitas dan kekuasaan. Para pakar skenario sengaja mengemas hal seperti ini melalui dapur industri penyiaran, karena mengetahui bahwa pemirsa yang menjadi market produksi hanya menginginkan hal-hal yang memuaskan telinga, dan keinginan mata, tanpa perduli apa akibatnya. Apakah ini pernah kita renungkan menyangkut hari depan generasi berikut.

error: Content is protected !!