Nilai Positif Penderitaan

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Yakobus 1:2,3.

Renungan Harian – Bagi seseorang yang menikmati tubuh sehat dan bebas dari kesusahan dalam arti yang relatif akan mudah berkata seperti  ucapan Shakespeare, “Manis rasanya mengalami penderitaan itu.” Akan tetapi pada umumnya sipapa saja yang meliwati pengalaman yang sukar akan selalu mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan itu bukanlah pengalaman yang disukai. Alkitab pun di satu sisi mengakui kenyataan ini pada saat mengatakan, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12:11.

Apa yang dinyatakan dalam ayat ini memang ganjaran itu pada awalnya mendatangkan dukacita, namun kemudian akan menuju kebaikan dengan berkata, “Tetapi sesudah itu kita dapat melihat hasilnya, suatu pertumbuhan yang diam-diam dalam karunia dan tabiat. Oleh sebab itu kita harus mengakui bahwa saat mengingat kembali suatu pengalaman pencobaan dan bagaimana hal itu mendorong  pertumbuhan kerohanian kita di satu pihak, maka ayat tersebut memberikan semangat kepada anda dan saya, agar berusaha menerima pengalaman-pengalaman ini sebagai kesempatan yang menggembirakan. Pasti menjadi suatu kebaikan untuk menerima sikap yang demikian, dan itu haruslah dilaksanakan. Akan tetapi pertanyaannya ialah, “Bagaimanakah cara melaksanakannya?”

Rasul Paulus termasuk salah seorang tokoh Alkitab yang mengalami begitu banyak kesengsaraan dalam kehidupanya. Atas dasar itulah dia memberikan jawab kepada kita. “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. II Korintus 1:3,4.

Pernahkah anda mengalami hal seperti itu? Sementara merasakan penghiburan dari Tuhan dalam segala penderitaan, maka kita pun sanggup menghibur orang lain dalam kesusahan mereka. Dan ini harus menjadi kehidupan kita.

Matthew Henry adalah seorang pendeta terkenal berasal dari Inggeris dan menulis banyak buku-buku rohani, termasuk menyusun salah satu seri buku “Complete Commentary” (komentar Alkitab yang terdiri dari enam  jilid). Pada satu kali hamba Tuhan yang rendah hati ini dirampok dan penjahat berhasil melarikan dompetnya. Kebetulan kejadian itu terlihat oleh salah seorang wartawan, yang kenal betul dengan Henry langsung mendekati dia, menunjukkan rasa prihatin dan berkata, “Kasihan pak pendeta, tentu sangat merasa terpukul dengan kejadian ini, semoga bapak tetap tabah dan bersabar!”  (Sambil menepuk  bahu Matthew Henry). Wajah Matthew yang tidak sedikitpun menunjukkan rasa kesal, dengan ketulusan hati ia menjawab wartawan dihadapan beberapa orang yang ikut mengerumuni dia katanya, “Paling tidak ada tiga hal yang saya syukuri atas peristiwa yang menimpa diri saya barusan ini. Pertama, saya bersyukur karena yang dirampok adalah dompet bukann nyawa saya. Kedua, saya bersyukur karena saya hanya korban rampok, bukan saya perampok. Ketiga, saya bersyukur karena saya yang dirampok bukan orang lain!”

Mendengar pernyataan tersebut semua orang di sekelilingnya terkagum-kagum, termasuk si wartawan yang  langsung mengirim berita itu dan besok harinya di releas di harian “The Wall Street Journal.” Kisah ini sedikit pun tidak ada unsur mengada-ada. Semua orang kenal benar dengan Pendeta Matthew Henry. Dari rentetan pengalamannya sebagai pelayan telah membuktikan bahwa kehidupan seperti itu adalah sikap sejatinya. Kunci utama semua itu menurut kesaksiannya, hanyalah iman yang telah tahan uji.

Mari kita kaji dengan pikiran yang jernih. Misalkan suatu cobaan berat menimpa anda dan saya. Lalu kita menyikapinya dengan rundung duka berkepanjangan. Hasilnya hanya kesehatan yang akan semakin menurun digerogoti oleh pikiran, bahkan bisa berujung maut. Itu sebabnya firman Tuhan mengingatkan,

”Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” II Korintus 13:5. Ingat! Kita masih tinggal di dunia berdosa yang penuh dengan kesusahan. Yesus tidak pernah berjanji bahwa setiap orang yang mengikut Dia akan luput dari berbagai kesusahan. Yang Yesus janjikan adalah, jika kesusahan menerpa Dia ada dekat dengan anda dan saya untuk menanggungnya.

error: Content is protected !!