Nilai Kehidupan Beragama

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Matius 5:20

Renungan Harian – Nats firman Tuhan ini adalah bagian dari materi khotbah Yesus di atas bukit yang dicacat oleh rasul Matius, ketika bersama-sama di dunia ini. Sudah barang tentu ada beberapa hal yang menarik yang menjadi pesan moral dari perkataan itu khususnya kepada setiap orang yang menamakan dirinya umat beragama. Pada saat Yesus menyatakanya dengan tegas, paling sedikit ada tiga kelompok manusia yang Dia sebut sebagai pemeluk agama termasuk diantaranya sebagai tokoh ulama di zaman itu. Pertama adalah ahli-ahli Taurat dan yang kedua orang-orang Farisi.

Di zaman Yesus, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat dihormati. Mereka sangat keras tentang tulisan yang mereka percayai, juga peraturan yang terperinci dari apa yang orang lain harus lakukan dan tidak boleh lakukan. Sangat fanatik terhadap bentuk dan upacara ibadah. Penampilan mereka selalu rapi dengan jubah panjang berjalan dengan cara yang agung.

Akan tetapi timbul pertanyaan. Mengapa Yesus justru berkata kepada para pendengarnya sebagai kelompok ketiga yang terdiri dari masyarakat biasa atau kaum awam dalam istilah sekarang ini…? Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Matius 5:20

Di sinilah Yesus berterus terang membuka semua kedok mereka karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi melakukan segala sesuatu hanya sekedar sandiwara. Pengabdian mereka semata-mata bertujuan untuk mendapat pujian dan gila hormat sehingga selalu mengedepankan kepentingan pribadi maupun kelompok. Itulah sebabnya Yesus menilai mereka sebagai “pemimpin-peminpin buta, kubur yang dilabur putih dan munafik” (Matius 23:16, 27). Mereka fanatik terhadap bentuk dan upacara keagamaan, namun lupa terhadap tanggung jawab yang besar yakni kepedulian terhadap sesama  manusia dan kesucian hidup. Di balik jubah sebagai pakaian kebesaran agama yang dikenakan tersembunyi hati yang materialistis tidak peduli meskipun harus menghancurkan orang lain.

Kelihatannya sikap-sikap pemimpin yang penomenal seperti itu, telah merasuki pemuka-pemuka   agama sepanjang zaman dan menunjukkan trends yang semakin meresahkan dari masa ke masa. Agama telah dijadikan sebagai perangkat politik tanpa memperhitungkan akibatnya. Tidak heran antar penganut menjadi bermusuhan meskipun masing-masing bernaung di bawah bendera yang sama, tidak jarang berujung perkelahian yang menelan korban jiwa. Miris hati kita menyaksikan dimana hakekat ideal dari agama sebagai sumber solusi, telah terpelanting jauh-jauh. Namun satu hal yang kita harus petik dari keadaan seperti itu. Yesus mengalamatkan pesan moral-Nya dengan menyatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi…,” itu sifatnya pribadi (personal). Artinya kita tidak perlu melihat siapa-siapa termasuk para pemuka agama dalam mengamalkan nilai-nilai luhur keagamaan tersebut. Yang amat perlu dipandang hanyalah Yesus pemimpin sejati iman kita, yang akan membawa iman kita menuju kesempurnaan yang berbuah sukacita dalam diri kita (Ibrani 12:2).

error: Content is protected !!