Nafsu Berahi Yang Salah Kaprah

Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing?  Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.     Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat. Amsal 5:20-23.

Penyejuk Jiwa – Salah satu pendorong untuk melakukan hubungan batin bagi pasangan yang bukan suami isteri, ialah saat merasa aman dari penglihatan orang lain apalagi pihak keluarga. Ini dapat dipahami berhubung perlakuan seperti itu dalam istilah sehari-hari saja dikenal dengan perbuatan terlarang. Namanya perbuatan terlarang berarti setiap melakukannya sudah pasti ada pihak yang terpaksa dibohongi alias ditipu, dan pihak yang dibohongi itu sudah barang tentu belahan jiwa sendiri. Hal itu bisa berlangsung lama secara berulang-ulang tanpa ada yang mengetahui, kecuali mereka berdua. Walapun ada trends yang kelihatannya semakin hari semakin terang-terangan melakukan kemesuman tersebut. Itulah sebabnya nasihat Tuhan yang menyangkut kasus seperti itu selalu disertai pernyataan, “Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.”

Akan tetapi sangat disayangkan sekarang ini bahwa penglihatan Mata Tuhan sampai ke tempat yang tersembunyi tidak lagi menjadi penghalang yang berarti bagi banyak orang melampiaskan nafsu berahi kepada perempuan-perempuan jalang. Demikian juga sebaliknya kepada laki-laki hidung belang. Tidak peduli apakah itu kalangan pemuka agama, apalagi kaum awam. Miris hati ini menyaksikan penomena yang mengulang kembali apa yang melanda beberapa nabi di zaman Perjanjian Lama.        

Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagi-Ku dan penduduknya seperti Gomora.” Yeremia 23:14.

Apa yang ditulis disini, semata-mata hanya mengingatkan umat yang hidup di zaman sekarang supaya  menjauhi, sehingga malapetaka yang menimpa mereka karena perbuatanya, terhindar dari kita. Perhatikan bagaimana firman Tuhan selanjutnya memberitahukan konsekuensi yang mereka tanggung.

Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam mengenai para nabi itu: “Sesungguhnya, Aku akan memberi mereka makan ipuh dan minum racun, sebab dari para nabi Yerusalem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri.” Ayat 15.

Baru beberapa hari yang lalu kejadian yang menimpa satu keluarga di lingkungan RT kami. Masih keluarga muda mempunyai tiga anak yang paling bungsu masih berumur enam bulan. Mereka tergolong keluarga pas-pasan, masih tinggal di rumah kontrakan. Rupa-rupanya si isteri telah mencium berita bahwa suaminya telah selingkuh. Dikuatkan juga dengan gelagat suaminya yang mulai berbeda beberapa bulan terahir. Kecurigaan itu sudah pernah dia ceritakan kepada tetangga teman dekatnya. Sebagai puncaknya beberapa hari lalu, terjadilah pertengkaran sengit, karena ternyata suaminya ketahuan telah mengikat hubungan gelap dengan seorang janda kaya, sampai terjadi pemukulan terhadap isterinya hingga jatuh pingsan. Suaminya kabur meninggalkan isteri yang tidak sadarkan diri, berikut anak yang masih kecil-kecil. Beruntung kekerabatan di RT kami cukup baik, langsung melarikan si ibu ke rumah sakit sedangkan ibu-ibu berusaha menangani anak yang ditinggal, sementara berusaha menghubungi pihak keluarga terdekat. Sampai renungan ini ditulis, belum ada yang tahu ke mana suaminya melarikan diri, mungkin dia telah mati rasa akibat hawa nafsu berahi yang salah kaprah.

Inilah yang disebut dalam ayat renungan hari ini, “Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.” Bisa saja pengertian mati pada ayat ini, “mati perasaan” sama seperti yang dialami oleh suami tetangga kami yang isterinya sekarang masih terbaring di rumah sakit. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana tragisnya, dampak pemanjaan nafsu berahi, sungguh menyedihkan. Hanya setanlah yang mampu senyum menyaksikan hal semacam itu.

error: Content is protected !!