Metode Menyelidiki Kitab Suci

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku! Yohanes 5:39.

Renungan Harian – Yesus pernah menemplak sekelompok orang-orang pada zaman-Nya, karena menyelidiki Kitab suci dengan cara dan tujuan yang salah. Hal ini mengingatkan anda dan saya bahwa kesalahpahaman umat manusia akan Alkitab telah terjadi sejak dua ribu tahun silam. Ada yang berupaya menyelidiki dengan motif keuntungan pribadi, ada yang bermaksud untuk mencari kesalahan orang lain seperti kaum farisi, saduki dan ahli torat, namun banyak juga dengan tujuan murni yaitu untuk mengenal Yesus Kristus yang sesungguhnya. Bagian terakhir inilah hakekat penelitian Kitab Suci yang sebenarnya dan Yesus sendiri yang menyatakan, “Kitab-kitab suci itu memberi kesaksian tentang Aku!”

Jika bertitik tolak dari sisi akademis khususnya Fakultas Filsafat Theology, paling sedikit ada empat mata kuliah dalam bidang penelitian Alkitab dan dipelajari selama dua tahun, dalam jenjang pendidikan S1. Itu terdiri dari Homiletics, Biblical Hermeneutics, Biblical Exegecies, dan Archeology. Namun menurut hemat saya kerumitan mata kuliah tersebut dimana saya pernah menyelesaikanya, dapat disederhanakan  methodenya sekalipun tanpa duduk dibangku kuliah. Apalagi dengan tampilnya beberapa hamba-hamba Tuhan dengan latar belakang theology mengemas begitu banyak versi Alkitab lengkap dengan alat-alat bantu di dalamnya. Hal itu sangat memudahkan kita untuk mengerti asalkan mau meluangkan waktu untuk tekun membaca dan mendalami. Salah satu di antaranya ialah, “Thompson Chain-Reference Bible” yang sangat menolong. Dunia kekristenan harus bersyukur kepada Tuhan dengan menganugerahkan hikmat kepada Dr. Frank Charles Thompson yang telah menyusun Alkitab tersebut sedemikian rupa. Masih banyak yang lain yang sangat membantu para pembaca, kunci utamanaya hanya kemauan menyisihkan waktu menyelidiki.

Kita akan melihat langkah yang sederhana tersebut bagaimana kita melakukanya terhadap Alkitab yang ada di tangan kita masing-masing agar benar-benar dimengerti keasliannya.

  1. Observasi. Disebut observasi karena bukan hanya sekedar dibaca. Bisa kita selesaikan membaca beberapa halaman dari sebuah buku namun kita tidak tahu apa yang dibaca. Itu terjadi karena tidak melakukanya secara observasi.
  2. Interpretasi. Rumus untuk menginterpretasi Alkitab harus menyadari bahwa Alkitab adalah penafsir bagi dirinya sendiri. Prosesnya hanya dengan membandingkan satu ayat ke ayat yang lain berdasarkan konteks, demikian juga satu perikop ke perikop yang lain. Langkah ini sudah dituliskan secara utuh dan saling melengkapi di seluruh kitab suci. Jangan pernah bandingkan dengan filosofi yang lain di luar Alkitab termasuk Encyclopedia sekalipun.
  3. Aplikasi. Barulah tiba kepada aplikasi atau pelaksanaan dalam kehidupan. Pastikan langkah ini telah dilalui dengan akurat, sesudah itu jangan ragu-ragu lagi menjalaninya. Sangat sederhana bukan! Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi di Berea, seperti kita singgung lebih diteil pada renungan sebelumnya.

Untuk itu ada lagi lima resep yang harus diformulasikan agar langkah-langkah yang kita sebutkan di atas  dapat berjalan dengan baik,

  1. Cintai Alkitabmu. Tidak mungkin memberi perhatian kepada sesuatu yang tidak dicintai.
  2. Baca Alkitabmu.
  3. Hidupkan Alkitabmu.
  4. Dalami Alkitabmu.
  5. Bagikan Alkitabmu.
error: Content is protected !!