Menyembah Dengan Roh Dan Kebenaran

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”  Yohaanes 4:23,24

Renungan Harian – Bertitik tolak dari peristiwa kelahiran Yesus menjadi manusia sebagaimana telah disajikan beberapa episode melalui renungan “penyejukjiwa.com” ini, bertujuan untuk menerangi hati kita melalui firman, bagaimana menyembah Allah dengan benar. Hal ini sangat diperlukan oleh setiap orang yang menyatakan diri pengikut Kristus (Kristen) demi menghindari motivasi penyembahan yang salah. Menyimak perkataan Yesus dalam pokok renungan di atas, bukan saja tuntunan penyembahan yang benar diperlukan oleh umat, tetapi itu pun dikehendaki oleh Bapa yakni menyembah Dia harus dalam roh dan kebenaran. Dengan menggunakan kata “harus” bukan berarti di dalamnya ada kandungan kekerasan yang memberatkan apalagi paksaan, melainkan penekanannya adalah segi kwalitas berbakti. Perhatikan  ayat 24 yang menyatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Dari segi penulisan ada hal yang perlu dicermati yaitu “roh” yang ditulis dengan huruf kecil, sedangkan Allah itu “Roh” ditulis dengan huruf besar. Tidak ada kesalahan maupun kehilafan penulisan kedua kata yang sama ini. Justru itulah yang  memberikan penjelasan kepada pembaca berdasarkan gramatikal bahasa Ibrani yang cukup kaya.

Seperti kita ketahui bersama terlebih para pelajar Alkitab yang pernah menekuni bahasa Ibrani dan Yunani, kedua bahasa ini termasuk kedalam rumpun bahasa-bahasa yang kaya, sehingga para pembaca lebih mudah dituntun kepada pengertian yang dimaksudkan. Padahal kedua bahasa itulah yang menjadi bahasa orginal Alkitab, meskipun ada sebagian kecil Perjanjiian Lama yang ditulis dalam bahasa Aramic seperti kitab Daniel misalnya. Kata “Roh” dalam arti oknum Keallahan “dan” roh dengan maksud yang lain amat jelas jika ditulis dalam kedua Bahasa tersebut. Itulah yang terjadi pada penulisan Yohanes 4 sebagai sumber dari renungan kita hari ini. Perlu juga kita ingat bahwa ketiga bahasa yang kitab sebut di atas termasuk satu rumpun yang punya banyak persamaan satu dengan lain, karena tadinya merupakan dialek di kawasan Israel termasuk negara sekitarnya.

Dengan demikian jika membaca firman Tuhan yang ada di tangan kita sekarang ini, menemukan penulisan kata “roh” dengan huruf kecil itu bisa berarti “ruah” atau “nefes” dari Bahasa Ibrani yang artinya jiwa atau nafas. Itupun tidak dapat disamaratakan bagi setiap kata “roh”. Ada rumus yang lebih mengarahkan pembaca yakni konteks Alkitabiah sesuai dengan tema yang sedang dibicarakan. Karena ada saja didapati kata “roh” yang menerangkan oknum di luar keallahan misalnya “roh” jahat yang bersumber dari kuasa lain itu sudah pasti ditulis dengan hurus kecil. Itu pun dapat kita temukan dalam kitab Injil Yohanes. Dengan penjelasan ini dapatlah kita tarik kesimpulan yang benar bahwa penulisan, “harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” memberikan arti sesungguhnya yakni setiap orang yang menyembah Allah haruslah dengan segenap jiwa seperti perlunya kita bernafas setiap saat. Bukankah kita menyadari bahkan dapat merasakan jika tidak lagi bernafas secara teratur, maka seseorang itu disebut telah menghembuskan nafas terahir alias mati? Sama halnya dengan menyembah Allah harus diwarnai oleh keteraturan.

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Matius 22:37

Mari kita camkan nasihat Yesus dalam ayat itu. Itulah salah satu contoh pernyataan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Simak dalam-dalam dengan pikiran yang jernih kitab injil Yohanes fasal 4, sama seperti lembaran-lembaran lain di seluruh Alkitab menerangkan dengan sesungguhnya bahwa waktu, tempat dan cara penyembahan itu diuraikan selengkapnya. Ini berlatarbelakang dari pembicaraan Yesus dengan seorag wanita Samaria di satu tempat yang menurut kepercayaan Samaria tempat menyembah Allah harus di kramatkan. Didorong oleh kasih dari Yesus kepada perempuan itu maka Dia menyisihkan waktu menuntunnya kepada penyembahan yang semestinya agar ia dapat mengerti jalan keselamatan melalui penyembahan Allah yang benar. Dari segi waktu tidaklah berarti menyembah Tuhan hanya saat-saat tertentu seperti dibiasakan banyak orang misalnya bulan-bulan natal yakni Desember atau hari-hari besar agama lainnya. Pada hal sumber informasinya pun hanya dari tradisi bukan dari Alkitab. Yesus melalui firman-Nya meluruskan keyakinan seperti itu sama seperti kepada wanita Samaria, sudah barang tentu kepada kita semua umat kesayangan-Nya sepanjang zaman. Untuk itu kita akan lihat selanjutnya bagaimana itu dijelaskan dalam firman Tuhan, pada renungan berikut.

error: Content is protected !!