Menyembah Dan Mempersembahkan Persembahan

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Matius 2:11

Renungan Harian – Yang dimaksud dengan “mereka” pada ayat renungan kita hari ini ialah orang majus yang datang menyembah Yesus di Betlehem ketika Dia lahir. Ketiga kata yang diangkat menjadi topik sehubungan dengan itu, berasal dari akar kata yang sama yaitu “sembah.” Akan tetapi setelah dijadikan kata berimbuhan maka membentuk satu cakupan arti peribadatan yang lengkap yakni, apabila seseorang disebut menyembah harus ada seuatu yang dipersembahkan sebagai persembahan. Saat-saat teduh menyembah Tuhan sudah barang tentu ada lagu puji-pujian maupun musik, berdoa atau sembahyang, menikmati sajian roti hidup firman Tuhan, kemudian memberikan persembahan. Itulah yang dinamakan ibadah. Akan tetapi semua harus berasal dari hati sanubari yang murni. Perilaku yang sama telah mendasari orang majus pada waktu datang menyembah Yesus saat kelahiran-Nya. Inilah yang dikategorikan sebagai ibadah sejati, dan tidak terlalu berlebihan jika disebut spektakular. Bayangkan mereka menelusuri jarak yang amat jauh tanpa memedulikan kemungkinan bahaya di sepanjang perjalanan karena ditempuh dengan mengendarai keledai alias jalan kaki. Keyakinan mereka pun untuk berangkat menemui Yesus yang lahir, dihasilkan oleh penelitian nubuatan Alkitab secara cermat dan tekun. Tidak heran Allah memerintahkan sekelompok bintang menuntun perjalanan mereka demikian sepasukan malaikat mengawali hingga tiba di Betlehem kota tujuan. Tidak ketinggalan sejumlah persembahan dari milik mereka yang terbaik dan termahal telah dibawa yaitu emas, kemenyan dan mur.

Meskipun kemudian menghadapi tantangan berat dari masyarakat setempat setibanya di Yerusalem, dimana mereka dituduh orang kafir yang sok tahu, tapi itu tidak mengendorkan semangat mereka untuk maju. Apapun omongan orang tidak pernah menggeser kesungguhsungguhan hati mereka untuk menemukan Juruselamat dan menyembah-Nya. Baca Injil Matius fasal 2, konsep itu ada tersirat di dalamnya. Contoh inipun menjadi pelajaran yang menarik untuk kita hidupkan. Jangan pernah terpengaruh menjalankan ibadah sejati kita jikalau ada orang yang menuduh kita kafir. Zig Ziglar, seorang motivator terkenal berkata, “Bukan karena orang menuduh saya salah maka saya benar bersalah. Yang menentukan itu adalah perbuatan saya.” Itu sebabnya di pengadilan selalu harus ada saksi. Sering terjadi hasil dari sebuah proses peradilan terhadap seseorang yang dijadikan tersangka, ternayata dinyatakan tidak bersalah setelah diperiksa. Yang menjadikan dia tersangka hanya karena tuduhan.

Sama halnya dengan sebutan kafir kepada penganut satu agama oleh penganut agama yang berbeda. Itu tidak perlu ditanggapi. Agama adalah urusan seseorang terhadap Tuhan bukan dengan manusia. Yang mengetahui, apakah saya kafir atau tidak hanya Allah. Itu Alkitabiah. Malahan hampir semua kitab suci agama-agama di dunia menyebut, “apabila menuduh penganut agama lain sebagai orang kafir itu pertanda bahwa saya bukan penganut agama dengan iman sejati.” Itu saya ketahui ketika mengambil mata kuliah “Agama-agama Dunia” di fakultas filsafat theologia. Itulah filosfi kerohanian orang majus, kiranya juga menjadi dasar kerohanian anda dan saya.

Sebagaimana kita tahu demi menghindari keganasan hati Herodes, Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus mengungsi untuk sementara ke negeri Mesir sesuai perintah Allah. “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Matius 2:13-15

Pernahkah para pembaca meneliti ayat ini dengan menggunakan peta? Dengan perjalanan normal menggunakan keledai, jarak antara Betlehem ke Mesir harus ditempuh selama 40 hari, itupun kalau berjalan non stop siang malam. Belum lagi mereka berada di Mesir menunggu Herodes mati beberapa bulan kemudian. Kembali ke Nazaret dengan durasi perjalanan yang sama. Yusuf yang hanya berprofesi sebagai tukang kayu tentu tidak punya persiapan untuk biaya perjalanan plus biaya hidup selama berada di negeri asing yaitu Mesir. Akan tetapi mereka tidak pernah kekurangan malah berkelimpahan dari persembahan orang majus tersebut. Itulah yang menghidupi mereka selama pengembaraan mengikuti perintah Tuhan demi kenyamanan Juruselamat yang lahir di bawah ancaman. Mari kita renungkan betapa berharganya persembahan orang majus dihadapan Allah karena diberikan dengan segala ketulusan hati dan tepat arah. Persembahan yang ujudnya berkenan kepada Yesus.

error: Content is protected !!