Menyembah Allah Yang Tidak Dikenal?

Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Kisah Para Rasul 17:23.

Penyejuk Jiwa – Selama rangkaian perjalanan missionarinya menelusuri Asia bahkan sampai ke Eropah, Paulus satu kali singgah di  Athena, Yunani. Sudah barang tentu tujuannya untuk memberitakan injil Yesus Kristus kepada masyarakat yang ada di sana. Setibanya di kota yang dipenuhi para akhli filsafat itu, Paulus terharu menyaksikan bahwa Athena dipenuhi dengan patung-patung yang menjadi dewa sembahan mereka. Itu sebabnya rasul pemberani itu merasa perlu menggunakan waktu bertemu dengan para tokoh agama untuk memperkenalkan Allah yang sebenarnya. Dia lebih terdorong untuk menggunakan kesempatan karena ketika masuk di satu rumah ibadah, menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: “Kepada Allah yang tidak dikenal.” Paulus berpikir, bagaimana mungkin seseorang beribadah kepada Allah yang tidak dia kenal. Jika menurut kitab suci Alkitab, peribadatan seperti itu merupakan upacara keagamaan yang janggal.

Sekalipun demikian, pengalaman rasul Paulus dalam perikop ini membuktikan bahwa sejak zaman Perjanjian Baru hingga sekarang ada saja kelompok yang menamakan diri berbakti kepada Allah, namun sesungguhnya mereka tidak mengenal Allah yang mereka sembah. Perhatikan bagaimana Yesus memberi pernyataan mutlak untuk memperoleh hidup kekal melalui doa-Nya kepada Bapa. Tentu hidup kekal adalah tujuan akhir dari setiap ibadah menyembah Allah.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Yohanes 17:3

Cukup jelas substansinya bukan! Dengan kata lain setiap umat yang mengaku menyembah Allah harus lebih dahulu mengenal dengan benar siapa Allah yang ia sembah dan mengenal Yesus Kristus yang Dia utus. Di sisi lain, firman Tuhan  juga menuliskan beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Matius 6:7

Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Matius 10:18

Maka, karakteristik yang disebut di sini ialah pertama, berdoa dengan bertele-tele karena menyangka dengan banyaknya kata-kata doa akan dikabulkan. Kedua, menggiring sesamanya ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja oleh karena Yesus, hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. Firman Tuhan yang menyatakan. Inilah mungkin alasan sehingga ditemukan kelompok manusia yang kadangkala dengan arogan berkata hendak membela Allah. Coba dikaji dengan pikiran yang jernih, ibarat seorang pemulung sesumbar mengatakan akan tampil membela presiden. Bukankah presiden akan tertawa mendengarnya, karena seorang yang tak berdaya hendak membela penguasa. Apakah nilai seorang manusia yang tiada arti dihadapan Allah harus mengatakan membela Dia. Bukankah Allah itu Maha Kuasa. Jika perlu menghanguskan dunia dalam sekejap matapun dapat Dia lakukan, hanya saja rancangan Allah jauh melebihi akal manusia yang tidak mampu memikirkanya. Tugas kita sebagai pengikut hanya pasrah kepada kehendak-Nya. Itu sebabnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa cetusan hendak membela Allah, hanya keluar dari bibir seseorang yang tidak mengenal Dia.

Sahabatku umat Kristiani yang diberkati Tuhan dimanapun anda berada, mari kita benar-benar mengenal Allah yang kita sembah. Inilah yang akan mencegah anda dan saya agar tidak pernah terpancing melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kehendak-Nya terlebih dalam situasi seperti sekarang.

Allah yang kita kenal dan sembah itu, memerintahkan setiap pengikutnya untuk menjamin solidaritas dan menjaga kedamaian antar sesama di manapun kita berada. Ciptakan toleransi antar umat beragama sekalipun di tengah keadaan yang sukar. Giat melakukan pekerjaan Yesus Kristus menyampaikan injil keseluruh dunia dengan kasih. Aktivitas seperti itulah yang diperintahkan oleh Tuhan kepada Paulus pada perjalanan selanjutnya menuju Korintus, sebuah kota yang lebih besar tantangannya.

Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Kisah Para Rasul 18:9,10

error: Content is protected !!