Menyalibkan Segala Hawa Nafsu

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Galatia 5:24.

Penyejuk Jiwa – Masalah kepemilikan adalah hal yang amat penting dalam kehidupan ini. Itu sebabnya setiap negara di dunia sangat cermat dan teliti menyusun undang-undang kepemilikan, agar jangan menimbulkan percekcokan di tengah masyarakat. Sekalipun pemerintah sudah berupaya secara optimal, namun tidak jarang terjadi keributan soal kepemilikan antar individu atau kelompok dan menjadi urusan pihak pengadilan. Kita pun lazim melihat di atas sebidang tanah, dan juga bangunan tertentu bertuliskan “sengketa.” Itu berarti asset tersebut sedang dipermasalahkan siapa pemiliknya yang sebenarnya.

Jika hak-hak seperti itu amat dipentingkan pada benda-benda yang dapat binasa, bagaimanakah gerangan dengan diri kita secara rohani. Pernahkah kita merenungkan saat beraktivitas sehari-hari, milik siapakah kita? Setiap tindakan anda dan saya menentukan apakah milik Kristus Yesus atau oknum lain. Ayat renungan hari ini menyatakan dengan tegas, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”  Sangat mudah mengetahuinya bukan! Akan tetapi jika terjadi sebaliknya, siapakah yang menjadi pemilik? Sudah barang tentu ayat firman Tuhan lah yang memberikan ketentuan.

Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. Yohanes 8:44

Berdasarkan kedua ayat ini, nyatalah bagi kita  siapa yang menjadi owner atau pemilik diriku walaupun yang menentukan adalah saya pribadi. Ibarat sebuah perusahaan yang berbadan hukum, maka segala sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut berada di bawah kekuasaan owner atau pemilik. Demikian halnya dengan korporasi rohani yang kita jalin setiap hari melalui tindakan atau perilaku. Jika saya dalam menjalani hidup ini tidak lagi dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan, sudah cukup menjadi pertanda bahwa saya adalah milik Kristus Yesus. Jika sebaliknya adalah atribut kepemilikan Iblis.

Sudah barang tentu kurang menyentuh hati jika kriterianya hanya sampai di sini, sekedar mengetahui di pihak siapa kita berada. Firman Tuhan selanjutnya mengutarakan kondisi kedua kepemilikan itu, yang akan dialami dan dinikmati oleh mereka yang berada di bawah naungannya.

Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya. 1 Yohanes 3:8-10.

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, Filipi 2:1.

Semua orang tentu mendambakan suasana kasih mesra dan belas kasihan, ada persekutuan Roh. Itu hanya ada dalam Kristus. Sedangkan Iblis menaburkan benih-benih kebencian agar sesama saudara tidak lagi saling mengasihi. Nyata benar bedanya bukan. Sejak hari ini, aku mau jadi milik-Mu ya Tuhan!

error: Content is protected !!