Menuai Yang Ditabur

Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung. Hosea 8:7.
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Galatia 6:7.

Penyejuk Jiwa – Kemarin kita telah berjanji akan melihat lebih mengerucut bagaimana perpaduan antara hukum emas dengan sikap saling memperhatikan dalam kehidupan antar umat manusia. Sudah barang tentu alat pandang yang digunakan haruslah philosofi Firman Tuhan, agar tidak melenceng dari kaidah kebenaran. Mari kita simak kembali rumusan hukum emas itu,  “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Maka hakekat dari rumusan perilaku ini sangat jelas dalam pikiran setiap orang, pengertian menerapkannyapun sangatlah sederhana.

Jika tidak menghendaki rumahmu dilempari, jangan lempar rumah orang. Jika saya tidak menghendaki caci maki, jangan saya caci maki orang lain. Ada bagian yang lebih luas yang sering menjadi peristiwa  yang memilukan sehubungan dengan hukum emas ini. Tidak seorangpun penganut agama di dunia ini menghendaki rumah ibadahnya diganggu apalagi dibakar pihak lain. Ini pasti. Dengan demikian hendaknya, janganlah ada yang mau mengganggu apalagi sampai membakar rumah ibadah agama lain. Biarlah yang lalu telah berlalu. Mari kita buka lembaran-lembaran baru dengan menghidupkan hukum emas ini sehingga tejadilah seperti perkataan pemazmur, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Mazmur 133:1. Jika dibaca ke ayat selanjutnya pemazmur menggambarkan kerukunan itu seperti minyak yang harum dimana semua orang menyukainya. Khusus mengenai rumah-rumah ibadah ini,  ada satu contoh nyata yang diprakarsai oleh pemerintahan RI, di area wisata yang sangat terkenal yaitu, Taman Mini Indonesia Indah. Sengaja ditempatkan di bagian depan deretan rumah-rumah ibadah mulai dari Masjid, Gereja Katolik, Protestan, Wihara (Klenteng) dan Pura. Setiap hari-hari ibadah masing-masing, terasa kerukunan dan simpati satu sama lain saling menyapa dengan ramah. Saya berani saksikan karena pernah mengalami indahnya kerukunan tersebut selama empat tahun saat menjadi gembala di salah satu Gereja di sana. Tidak pernah saya lupakan, setiap hari ulang tahun TMII tersebut pihak pengelola selalu mengundang tokoh-tokoh agama duduk berdampingan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing kemudian beramah tamah. Nyata memang kenikmatanya.

Perlu juga direnungkan adanya sisi lain yang  dapat menolong kita menghindari tindakan-tindakan yang merusak kerukunan. Jangan pernah lupa bahwa segala perbuatan apalagi jika pada kategori tindak kejahatan pasti ada resiko. Ingat, ingat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Lambat atau cepat akan dituai apalagi kalau tidak bertobat.

Alkitab tidak mengajarkan hukum karma secara prinsip. Namun jelas dan tegas Firman Tuhan memberi ketentuan bahwa setiap perbuatan seseorang akan dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Semua perbuatan akan menerima upah masing-masing dari Allah hakim yang adil. Ada banyak contoh yang ditulis di beberapa lembaran Firman-Nya berupa pengalaman orang-orang yang akhirnya menanggung resiko dari perbuatanya. Mari kita lihat salah satu diantaranya!

Ketika Yakub masih muda, dia bersekongkol dengan ibunya Ribkah menipu ayahnya Ishak,  mencuri janji berkat kepada kakaknya Esau. (Kejadian 27). Yakub akhirnya menuai tatkala anak-anaknya masih muda. Sebelas anaknya laki-laki datang menipu dia dengan mengatakan bahwa salah seorang yakni Yusuf anak kesayanganya dimakan binatang buas, dengan membawa jubahnya yang berlumuran darah padahal mereka yang merekayasa. Dan untuk itu Yakub berkabung berhari-hari lamanya (Kejadian 37).

Mari kita jujur melihat dalam kehidupan manusia sepanjang masa, selalu ada konsekuensi yang ditanggung seseorang akibat perbuatannya. Siapa menabur angin akan menuai puting beliung.

error: Content is protected !!