Menoleh Ke Kebelakang, Memandang Ke Depan (Edisi khusus tahun baru)

Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung. Mazmur 40:6

Renungan Harian – Bagi kita yang tinggal di kawasan timur dunia, hari ini adalah tanggal yang pertama memasuki tahun 2017, dan mereka yang berada di belahan yang lain masih sedang bersiap-siap untuk momen penutupan 2016. Tentu beraneka ragam kesan yang mewarnai kehidupan manusia di awal tahun seperti ini baik itu pribadi, keluarga, kelompok, organisasi, bidang usaha, maupun perusahaan dan lain-lain. Yang pasti, semua menggunakan kesempatan ini menyusun rencana ke depan, dengan memedomani pengalaman-pengalaman masa lalu. Siapa pun yang ingin maju harus melakukan metode itu, seperti sebutan yang mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Orang-orang yang tidak cermat belajar dari pengalaman akan jatuh terperosok karena akan mengulangi sejarah yang sama. Steve Jobs seorang maestro dari produk IT terinnovatif di dunia pada masa hidupnya pernah berkata, “Saya tidak meremehkan nilai pendidikan, namun saya merasa hal itu lebih menyita waktu kita untuk belajar dari pengalaman!” Demikian ia mengungkapkan betapa pentingnya belajar dari pengalaman.

Itu pun amat korelatif dengan pemberian nama bulan Januari, yang berasal dari salah satu dewa Romawi bernama “Janus” yakni dewa perencana. Dari situlah berubah menjadi Janua yang kemudian dikenal dengan nama bulan Januari. Dewa itu memiliki dua wajah, dengan posisi yang satu memandang ke depan sementara yang lain menoleh ke Belakang. Menurut cerita, dewa itu masih dipersonifikasi dalam bentuk patung di kota Roma dan masih ada hingga sekarang. Di bagian fondasi patung tersebut terukir huruf-huruf yang menuliskan kalimat, “Jika hendak memandang ke depan jangan lupa menoleh ke belakang!” Dengan kata lain menekankan sebutan di atas tadi bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Meskipun berlatarbelakang dari nama dewa namun sesungguhnya itu Alkitabiah. Ada banyak sekali ayat firman Tuhan yang menasihatkan perlunya rencana, dan harus didasarkan pada pengalaman-pengalaman masa lalu. Akan tetapi yang paling ditekankan ialah, agar dalam setiap rencana selalu memperhitungkan betapa ajaibnya pengalaman bersama Tuhan masa lalu. Itulah yang dilakukan oleh Daud baik pada saat dia sebagai gembala di ladang maupun setelah menjadi raja. Setiap menghadapi tantangan dia selalu mengenang pengalaman bersama Tuhan. Mari kita petik salah satu, untuk menginspirasi anda dan saya di tahun yang baru ini dalam meniti perjalanan ke depan. Kisah selengkapnya harus kita baca di Kitab 1 Samuel 17, ketika bangsa Israel di bawah ancaman orang Filistin dengan algojo perangnya yang amat ditakuti bernama Goliat. Semua prajurit Israel sudah ciut menghadapi termasuk raja Saul, kecuali Daud masih seorang gembala ketika itu ditambah dengan perawakan yang kecil menurut ukuran manusia. Berdasarkan pengalamannya bersama Tuhan dia tampil mengajukan permohonan kepada Saul agar diizinkan maju ke medan perang. Demikian Daud menceritakan pengalamannya,

Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” 1 Samuel 17:34;36,37

Saya yakin semua pembaca mengetahui alur ceritanya, Goliat tumbang seketika hanya dengan ali-ali ditangan Daud namun perisai Allah di hatinya. Tentu itu tidak mengherankan karena setiap saat Daud senantiasa menghitung perbuatan ajaib dari Tuhan seperti ayat yang menjadi pokok renungan tahun baru ini. Hal yang sama bisa menjadi pengalaman kita asalkan  menghidupkan pola yang sama.

Kelihatannya melalui tanda-tanda yang terjadi, situasi ke depan akan semakin mengerikan. Alkitab pun telah lebih dulu menubuatkan bahwa itu akan terjadi menjelang hari kedatangan Yesus menutup sejarah dunia ini. Namun teruskan rencana yang indah bersama Allah. Hindari hidup hura-hura khususnya pada suasana tahun baru seperti ini. Tingkatkan sikap beramal terhadap sesama apalagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Itu jauh lebih baik, daripada membelanjakan uang untuk petasan, kembang api yang mahal-mahal atau sesuatu yang terbuang percuma. Selamat tahun baru, Tuhan memberkati!

error: Content is protected !!