Mengucap Syukur Kepada Allah

Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaan-Mu. Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepada-Mu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa memberitahukan kesetiaan-Mu kepada anak-anaknya. Yesaya 38:18,19

Renungan Harian – Ayat yang menjadi pokok renungan hari ini, merupakan cuplikan dari doa nabi Yesaya, ketika dia melayani ditengah-tengah bangsa Yehuda. Seperti kita ketahui dari catatan kitab suci, di zaman nabi yang gagah berani ini, kerajaan Yehuda berada di ambang kemurtatan. Mereka terpengaruh dengan corak kehidupan duniawi dari bangsa-bangsa sekitar bahkan sampai terperosok ke penyembahan berhala. Keserakahan dan kebejatan moral merajalela. Salah satu penyebab utamanya karena mereka tidak lagi menyadari perkara-perkara ajaib yang mereka nikmati dari Allah, sehingga rasa bersyukur kepada-Nya tidak lagi terlintas di benak setiap orang. Apa yang mereka kecap dalam kehidupan setiap hari mereka perhitungkan itu dari kekuatan dan kemampuan sendiri. Karakteristik itu telah merasuki jiwa setiap orang mulai dari rakyat jelata sampai kepada penguasa terlebih rajanya Manasye saat memerintah melakukan yang jahat di mata Tuhan (2 Raja-raja 21:11). Seorang sejarawan theology bernama “Justin Martyr” menulis bahwa raja Manasye patut dianugerahi medali emas di bidang kejahatan karena kekejiannya. Dialah yang menjatuhkan hukuman mati kepada Yesaya dengan digergaji.

Demikian akibatnya jika satu bangsa yang tadinya umat pilihan Tuhan, tetapi melupakan segala perkara ajaib dari tangan-Nya.  Maka, selama pelayanannya di tengah bangsa yang tegar tengkuk itu, nabi Yesaya selalu menekankan perlunya kehidupan bersyukur kepada Allah, sehingga diharapkan terjadi reformasi dan pembaharuan rohani. Perlunya “mengucap syukur” bukan saja dia canangkan melalui orasi ataupun nasihat-nasihat, namun itu menjadi budaya doanya kepada Yang Maha Kuasa seperti ditulis pada ayat di atas. Yesaya sendiripun mengaku di hadapan Tuhan bahwa sikap mensyukuri segala kebaikan-Nya dia wariskan kepada anak-anaknya.

Hal yang sama hendaknya menjadi kehidupan setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Tuhan, sama seperti Yesaya mewariskan kepada anak-anak. Jika ada harta yang termahal dan langgeng serta bermakna, yang perlu diwariskan kepada generasi berikut dalam hidup ini itulah “hidup bersyukur.”

Satu kali pada mata pelajaran Sejarah, seorang guru memberikan pretest (ujian awal) kepada siswanya untuk menuliskan tujuh keajaiban dunia. Meskipun itu dalam bentuk pretest tentu sang guru memeriksa hasil kerja siswa pada malam harinya untuk mengetahui sejauh mana mereka mengetahui tujuh keajaiban dunia yang telah banyak dibicarakan orang. Dia sangat bangga karena mendapati sebagian besar siswa telah mampu menulis demikian, tujuh keajaiban dunia: 1. Piramida, 2. TajMahal, 3. Tembok Besar China, 4. Menara Pissa, 5. Kuil Angkor, 6. Menara Eiffel dan 7. Candi Borobudur. Lembar demi lembar menuliskan item yang hampir sama. Perbedaan hanya pada urutan penulisan daftar tersebut. Guru itu terus memeriksa lembar demi lembar tidak satupun yang terlewatkan. Saat memeriksa lembar yang paling akhir, sang guru terdiam bercampur haru. Membaca nama yang terrtulis di lembaran kerja terakhir itu dia tahu itu milik seorang gadis kecil pendiam. Jawabannya menuliskan seperti ini, tujuh keajaiban dunia: 1. Bisa berbicara, 2. Bisa melihat, 3. Bisa mendengar, 4. Bisa merasakan 5. Bisa menyentuh, 6. Bisa tertawa, dan 7. Bisa mencintai.

Setelah duduk diam terpaku beberapa saat, sang Guru menutup lembaran tugas siswanya. Kemudian menundukkan kepalanya berdoa mengucap syukur kepada Tuhan untuk “seorang gadis kecil pendiam” di kelasnya yang telah menginspirasikannya satu pelajaran berharga yaitu, “tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban” itu ada di sekeliling kita, bahkan kita miliki dalam diri pribadi. Sungguh ajaib nilainya sebagai kenikmatan yang patut disyukuri setiap saat. Apakah arti hidup ini, sekalipun sanggup berkeliling mengunjungi tempat-tempat yang dianggap mengandung unsur “keajaiban dunia” jika kita tidak dapat berbicara, melihat, mendengar, merasakan, menyentuh, tertawa dan mencintai???????????????????? Seberapa seringkah anda dan saya merenungkan itu sehingga mengagumi pemberi-Nya?

Apa yang kita cari dalam Hidup ini? Kita hidup di kebun, merindukan kota. Kita hidup di kota, merindukan kebun. Kalau kemarau, kita tanya kapan hujan. Di musim hujan, kita tanya kapan kemarau. Diam di rumah, inginnya pergi jalan-jalan. Setelah bepergian, ingin pulang ke rumah. Waktu tenang, cari keramaian. Waktu ramai, cari ketenangan. Ketika masih bujangan mengeluh ingin nikah, sesudah berkeluarga mengeluh belum punya anak, setelah punya anak mengeluh betapa beratnya biaya Hidup dan Pendidikan. Sepertinya segala sesuatu itu tampak indah, karena belum kita miliki.

Kapankah kebahagiaan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, padahal mengabaikan apa yang sudah kita miliki. Jadilah pribadi yang selau bersyukur dengan rahmat yang sudah kita miliki. Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini. Menutupi telapak tangan saja sulit. Tapi kalau daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah “bumi” dengan daun, demikian juga juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apa pun, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana, bahkan bumi ini pun akan tampak buruk. Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil. Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku. Syukurilah apa yang sudah kita miliki sebagai modal untuk memuliakan pemberi-Nya. Karena Hidup adalah waktu yang dipinjamkan, dan Harta adalah berkah yang dipercayakan. Semua itu, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki. Bersyukurlah atas Keluarga yang kita miliki. Bersyukurlah atas Pekerjaan yang kita miliki. Lebih dari semua itu bersyukurlah karena anda dan saya bisa berbicara, bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasakan, bisa menyentuh, bisa tertawa, dan bisa mencintai. Hanya melalui ketujuh factor ini saja ada segudang keajaiban yang bisa kita nikmati.  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. 1 Tesalonika 5:18

error: Content is protected !!