Menguasai Diri

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Amsal 16:32.

Renungan Harian – Ada dua sikap manusia yang dikemukakan pada ayat ini, yang sesungguhnya mengandung makna yang sama, demikian dengan analoginya masing-masing. Bagi kita yang belum pernah mengalami jerih payah perjuangan sebagai pahlawan, demikian juga pertempuran merebut suatu kota, tidak mudah memaknai pernyataan firman ini. Namun lembaran-lembaran sejarah yang mengungkapkan banyak tentang peristiwa ekspansi maupun perebutan kekuasaan, paling sedikit dapat menolong kita untuk mendapatkan gambaran.

Di zaman dahulu kala, merebut satu kota bukanlah suatu prestasi yang rendah. Kota-kota zaman dulu didirikan di atas bukit atau di atas sebuah pulau. Kota itu dikelilingi oleh tembok yang seringkali dibangun dengan batu-batu padas yang besar sehingga sukar untuk merebutnya. Maklum karena masih era peperangan terpaksa dibuat demikian. Alexander yang Agung terkenal dalam sejarah seorang ahli kemiliteran yang acap kali berhasil merebut kota. Kota Tyrus yang dapat bertahan selama 13 tahun terhadap serangan Nebukadnezzar, ahirnya jatuh ke tangan Alexander hanya dalam tempo tujuh bulan.

Begitu perkasanya Alexander merebut Tyrus dengan mudah, akan tetapi dia gagal menguasai dirinya. Satu ketika diadakanlah pesta untuk menghormati kemenangannya. Seluruh tamu yang hadir memuji pahlawan besar tersebut, kecuali sahabatnya Clitus seorang jenderal yang berani menegor kesombongannya. Kritikan teman akrab dan teman seperjuangannya itu membangkitkan amarah Alexander hingga membunuhnya dengan pedang setelah tidak mampu menguasai diri. Tidak lama setelah Alexander membunuh sahabatnya itu, ia disiksa oleh perasaan menyesal yang mendalam sehingga beberapa kali dia mencoba bunuh diri. Dia sudah tewas sekiranya tidak dicegah oleh tentaranya. Alexander dapat merebut kota, tetapi gagal menguasai nafsu jahat dalam dirinya. Di sini kita melihat kenyataan dari analogi firman Tuhan di atas bahwa penguasaan diri melebihi keperkasaan seseorang yang dapat merebut kota.

Sedikit saja orang yang tega membunuh sahabatnya akibat kemarahan, namun banyak di antara kita telah memutus tali persahabatan karena amarah yang meledak dengan tiba-tiba. Kota yang paling sukar ditaklukkan di dunia ini ialah “Kota Jiwa.” Rajanya ialah “diri” yang mempunyai banyak sekutu-sekutu perkasa seperti, cemburu, amarah, keragu-raguan, kesombongan, dan nafsu jahat. Kroni-kroni jiwa ini dilengkapi dengan senjata-senjata ampuh merusak diri sendiri yang sering disebut “senjata makan tuan” juga tidak jarang menyakiti orang lain.

Hanya Yesus Kristus lah sebagai Kapten Keselamatan yang mampu menaklukkannya. Menguasai nafsu amarah ini sangat penting bagi kesejahteraan jiwa, badan dan pikiran. Menurut penyelidikan, nafsu amarah menguras energi jiwa. Itu akan merusak tubuh dan pikiran. Akan tetapi bahayanya yang paling besar ialah merusak hidup kerohanian. Jika seseorang tidak menaklukkan nafsu amarah dan watak keras maka akhirnya ia akan mengalami kerusakan total. Benar seperti peribahasa katakan, “Orang pemarah lekas tua.” Itu dasarnya, yaitu diri. Hanya ada satu pengobatan bagi golongan orang seperti ini, yaitu pengendalian diri yang positip dalam segala macam situasi. Anda dan saya tetap akan merasa susah selama memikirkan diri terlalu banyak. Memikul beban terberat yang dipikul oleh orang berdosa, yaitu diri sendiri yang tidak pernah ditaklukkan dan disucikan.

Namun ada pengharapan bagi yang mau. Biarlah hidup yang penuh dengan pergumulan dan penyesalan ini tetap terhubung kepada Kristus, agar diri tidak lagi cenderung mempertahankan keunggulannya.

error: Content is protected !!