Menghindari Kesombongan Rohani

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Matius 23:1-3.

Renungan Harian – Salah satu tantangan yang paling berat dihadapi oleh Yesus ketika berada di dunia ini, adalah kelompok akhli-akhli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka disebut seolah-olah telah menduduki kursi Musa. Itu sebabnya Yesus menggunakan perilaku para akhli Taurat dan orang Farisi tersebut, sebagai bahan pelajaran kepada orang banyak dan juga murid-murid-Nya. Dengan blak-blakan  Dia mengatakan, “tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Inilah yang dinamakan dengan kesombongan rohani, terlalu membanggakan kebenaran doktrin yang dimiliki padahal tidak menghidupkannya. Jago berteori tetapi nol dalam perbuatan. Mari kita renungkan sampai ke lubuk hati yang dalam pernyataan ini. Apakah ada salahnya mempunyai keakhlian tentang Taurat, atau kaya dengan pengetahuan Kitab suci? Sama sekali “tidak” saudara-saudara, malahan itu harus di dalami semampu kita untuk menemukan permata-permata di dalamnya.

Untuk tujuan inilah didirikan tingkat perguruan tinggi dan universitas di mana-mana yang khusus mempelajari thelogy yang berlandaskan Alkitab. Yang salah jika pengetahuan itu dimanfaatkan menjadi kesombongan rohani, kemudian diujudkan dengan penonjolan diri demi ketenaran pribadi. Bukankah ini sekarang yang kelihatan menjadi citra kekristenan apalagi jika berbicara dalam tubuh organisasi keagamaan. Jika di satu sisi pengetahuan tentang harkat dan hakekat kitab suci disejajarkan sebagai salah satu disiplin ilmu, itu benar. Namun bobotnya adalah ilmu terapan. Artinya, semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang Alkitab, boleh jadi sampai menyandang titel S.Th, M.Th, M.Div, D.Min, D.Th, Ph.D dan lain-lain, harus menempatkan mereka di gugus depan sebagai panutan dalam tingkah laku. Jika tidak demikian, akan terulanglah seperti orang-orang Yahudi di zaman Yesus hanya menyempurnakan jumlah para akhli Taurat dan orang-orang Farisi modern di tengah masyarakat.

Para pembaca yang dikasihi Tuhan Yesus, masing-masinglah kita mengetahui pada kapasitas apa anda  sekarang dalam kehidupan berjemaat dimana berada. Apakah sebagai seorang awam, majelis, penatua, pendeta, atau kalangan pemimpin. Yang membuat kita memiliki pengalaman yang sama ialah, pernah mengajarkan kebenaran kepada orang lain paling sedikit kepada keluarga atau anak-anak kita. Pernahkah kita bertanya seperti ini, “apakah yang saya ajarkan kepada orang lain, sudah kuhidupkan dalam diri pribadi?”

Anda dan saya tentu pernah membaca atau mendengar pernyataan seorang Filsuf atheis bernama Friedrich Nietzhe. Suatu saat dia mengatakan, bahwa argumentasi terbaik melawan Kekristenan adalah orang Kristen itu sendiri. Ketika kepadanya ditanyakan mengapa menyebut demikian, dia menjawab, “Karena mereka menganjurkan standar kehidupan yang tinggi berdasarkan kitab suci mereka, tetapi tidak menghidupkan.”  Miris hati kita mendengar ini, seperti aneh tetapi nyata. Apakah masih ada orang-orang seperti ini di antara umat Tuhan? Marilah kita jawab dalam hati masing-masing dan sementara merenungkannya simak pernyataan Yesus dalam Matius 7:21-23.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Betapa tragisnya pengalaman orang-orang itu, saat Yesus menolak mereka di hari penghakiman nanti. Telah merasa bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan, mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan juga, namun harus diusir karena Yesus tidak pernah mengenal mereka. Inilah kelompok orang-orang yang amat vokal dalam perkataan, namun tidak pernah melakukan. Itulah kesombongan rohani. Semoga anda dan saya tidak termasuk di dalamanya.

error: Content is protected !!