Menentukan Suatu Pilihan

Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Lukas 18:22.

Penyejuk Jiwa – Di antara kelompok ibu-ibu dan anak-anak yang sedang berdiri mengelilingi Juruselamat ketika Dia memberkati anak-anak, beberapa dari anak-anak itu sudah melalui masa bayi ke masa kanak-kanak dan masa muda. Salah seorang pemuda yang hadir pada waktu itu ialah seorang penghulu muda yang kaya. Apakah dia datang bersama ibunya atau sendirian, Alkitab tidak memberikan keterangan. Hal yang kita  tahu pasti bahwa dia melihat Yesus mengasihi anak-anak. Iapun melihat betapa lemah lembutnya Yesus menerima mereka, dan mengangkat mereka pada lengan-Nya sehingga hatinya menyala dengan kasih terhadap Juruselamat. Pemuda kaya itu merasakan satu kerinduan untuk menjadi murid-Nya. Sementara dia memperhatikan dan merenungkan betapa manisnya mengikut seorang Guru yang mempunyai kasih seperti itu, dia hanyut dalam lamunan sehingga gagal untuk memperhatikan bahwa segera sesudah Yesus menumpangkan tanganya kepada anak-anak itu Dia melanjutkan perjalanan-Nya. Tidak lama kemudian orang muda itu menemukan dirinya dalam keadaan sepi sendirian, dan tidak ada  lagi perbincangan orang di sekelilingnya. Alkitab mengatakan bahwa beberapa saat setelah itu datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Yesus dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yag kekal?”  (Markus 10:17). Untuk menjawab pertanyaan itu Yesus mengatakan kepadanya, jikalau dia mau memperoleh hidup yang kekal, dia harus memelihara hukum-hukum. Kemudian Yesus mengutip beberapa dari hukum-hukum itu, jangan mencuri , jangan berzinah, jangan  membunuh, dan seterusnya. Yakin akan kebaikan moral yang ia miliki pemuda itu berkata kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apalagi yang kurang?” Matius 19:20. Maka Yesus berkata kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ayat 21.

Menurut komentar Alkitab, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab hartanya banyak.” Yesus telah menunjukkan cacat dalam tabiat pemuda kaya itu, tetapi dia menolak untuk disembuhkan dan sejak saat itu dunialah yang disembahnya. Satu pilihan yang tragis.

Bagaimana halnya dengan anda dan saya, adakah Allah meminta kita untuk menjual harta dan memberikan kepada orang miskin? Jawabnya tentu “ya” dalam artian segala sesuatu yang kita punya akan kita gunakan sesuai dengan petunjuk-Nya. Apakah memiliki kekayaan itu dosa? Tentu tidak. Bukan uang yang menjadi dosa, tetapi cinta akan uanglah yang menjadi akar segala kejahatan. II Timotius 6:10. Abraham dan Ayub dan masih banyak yang lai adalah orang kaya, namun mereka tidak pernah dipersalahkan dengan kekayaan mereka itu. Berbeda dengan koonglomerat muda itu, yang menjadikan harta menjadi ilahnya. Adakah kekayaan menjadi ilah dalam kehidupan kita? Satu kali wartawan majalah Forbes mewancarai Bill Gates orang terkaya dunia saat ini. Mereka terkesan karena tahun itu Bill Gates mendonasikan uangnya  sebanyak 31 miliyard US dollar untuk dana kemanusiaan. (Kalikan dengan kurs kepada rupiah). Ketika dia ditanyakan, mengapa dengan rela hati memberikan uang sejumlah itu. Dengan bersahaja Gates menjawab, “Saya tidak ragu-ragu menyumbangkanya, karena semua itu saya peroleh dari Tuhan. Semakin saya melakukanya semakin berkelimpahan berkat yang saya dapat!”

Sudah barang tentu dalam konsep hidup seperti itu Bill Gates memodomani perkataan yesus, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33. Pandanglah pada Yesus…dan lenyaplah kesenangan dunia, dalam terang kemuliaan-Nya.

error: Content is protected !!