Mempertahankan Kebenaran

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10:23

Renungan Harian – Ayat ini mengandung unsur philosophis. Itulah sebanya harus dianalisa dengan cermat berdasarkan penulisan dan tanda-tanda baca yang digunakan. Meskipun sesungguhnya tidak ada kesulitan dalam mengartikan. Paulus seorang rasul yang mempunyai latar belakang pendidikan sebagai filsuf, menuliskan firman ini melalui ilham dari Rohulkudus. Sederhana saja pengertian “kebenaran” yang diutarakan melalui ayat tersebut dengan rumusan sebagai berikut: “Sesuatu yang benar akan berguna dan dapat membangun jika dijalankan dengan cara yang benar.” Jika tidak demikian sekalipun itu benar namun ditempuh dengan cara yang salah akan menjadi sia-sia dan merusak. Berhubung masih ada relevansinya dengan renungan sebelumnya, maka tidak ada salahnya sekedar menyegarkan kembali kita ulang mengutip ilustrasi yang sama pada renungan empat hari yang lalu.

Majalah Bits & Pieses yang banyak memotivasi dunia, melalui salah satu terbitannya menuliskan pengalaman Christian Herter, yang sedang berjuang keras untuk bisa memenangkan masa jabatan gubernur Massachusetts kedua kalinya. Di satu sore dalam rangka kampanye, sampailah dia di satu kantin yang saat itu memberikan makanan gratis kepada setiap pengunjung. Christian Herter sangat lapar karena ia belum makan sejak siang.

Iapun ikut antri, sampai tiba giliran berhadapan dengan wanita petugas yang menghidangkan daging ayam. Wanita itu menaruh sepotong daging ayam ke piring Herter. Didorang oleh rasa laparnya, Herter menyapa petugas wanita itu dengan permohonan, “maafkan saya nona, lapar sekali, bolehkah saya minta tambah ayamnya sepotong lagi?” Wanita itu menjawab, “maaf, saya hanya boleh memberikan sepotong ayam kepada setiap orang!”  “Tapi saya lapar sekali,” Herter mencoba meyakinkan. “Tidak, hanya satu potong ayam untuk satu orang,” sahut wanita itu.

Christian Herter, sangat terkenal sebagai gubernur yang ramah dan penyabar, namun kali ini ia bertekad untuk menggunakan sedikit kekuasaanya.

“Anda tahu siapa saya?” kata Herrter dengan nada suara membentak, “Sayalah gubernur Massachusetts!” Akan tetapi dengan tidak gentar sedikitpun wanita pelayan itu balik membalas, “anda tahu siapa saya, sayalah wanita yang diberi wewenang untuk membagikan ayam sepotong satu orang. Silahkan bapak duduk karena masih banyak yang antri!” demikian wanita itu menjawab.

Menyimak kisah nyata ini memudahkan pengertian kita tentang ayat di atas yakni sebuah kasus cara mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu yang benar. Di satu pihak wanita pelayan restoran teguh mempertahankan kebenaranya sesuai dengan uraian tugas yang diberikan atasan. Di pihak lain sang gubernur yang merasa punya power dan berusaha memanfaatkan posisinya sebagai gubernur, tidak peduli apakah karena kekuasaanya memaksa orang lain melanggar rambu-rambu kebenarannya. Inilah yang sering terjadi dalam hubungan antar manusia dan menimbulkan benturan-benturan sosial tidak terkecuali di kalangan uamt-umat beragama. Tentu masih segar dalam ingatan anda dan saya peristiwa yang memilukan hati demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada 4 Nopember 2016 yang baru lalu. Topiknya persis sama, sepihak mempertahankan kebenarannya, sementara pihak lain berjuang secara offensive dengan pengerahan sejumlah besar massa. Mungkin semua dunia sudah tahu akibatnya. Hanya kerugian akibat tindakan anarkis mencapai sekitar empat ratus juta rupiah, belum lagi biaya yang digunakan para demonstran diperkirakan miliyaran. Ada lagi yang sangat mengharukan di mana serombongan pendemo yang akan menuju ke Jakarta mengalami kecelakaan naas di tengah jalan hingga beberapa orang di anataranya mati di tempat kejadian.

Itulah sebabnya di seluruh Alkitab mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu tidak ada satu ayat bahkan satu kalimatpun menganjurkan agar memperjuangkan atau membela kebenaran dalam arti agama. Jika seseorang menghina agama yang kita anut, biarlah itu urusannya dengan Allah. Pada hal belum tentu juga dia benar menghina jangan-jangan itu hanya perasaan kita. Lantas mengapa saya harus buang-buang waktu dan materi mengurusi itu, sedangkan saat memperjuangkannya saja  sesungguhnya telah melanggar norma-norma agama saya karena berujung anarkis.Tugas dan tanggung jawab anda dan saya sebagai penganut, hanya berdiri teguh mempertahankan kebenaran. Itu kata firman Tuhan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1 Korintus 15:58. Pada saat kita berdiri teguh dan tidak goyah, maka yang perlu kita lakukan ialah pekerjaan Tuhan, yakni menjangkau seluruh umat manuisa dengan perbuatan kasih.

error: Content is protected !!