Membangun Dan Membina Kerukunan

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus 4:32.

Renungan Harian – Jika Firman Tuhan sudah cukup jelas menguraikan makna dan arti kerukunan itu di tengah kehidupan bermasyarakat, maka yang amat penting dipahami adalah bagaimana membangun dan membinanya agar dapat berjalan dengan berkesinambungan. Karena penyebab kegagalan segala sesuatu yang berguna di hidup ini, mengetahui bahkan memahami teorinya namun tidak mau mengaplikasikan. Siapapun sebagai pelaku perbuatan baik dalam menciptakan kerukunan, pasti dia tahu bahwa itu sangat menguntung dirinya dan orang lain, demikian juga sebaliknya.  Semua orang pasti tahu jika ia berbuat curang yang merusak kerukunan, itu merugikan dirinya dan orang lain juga. Masalahnya hanya terletak pada kuasa pengendalian diri.

Demikianlah halnya dengan  unsur-unsur pembangunan dan pembinaan kerukunan itu amatlah sederhana. Perlu kita sadari bahwa kerukunan masyarakat bukanlah harus terdiri dari individu-individu yang soleh, sempurna tanpa cacat tabiat. Itu nanti akan kita alami setelah berada di Sorga dan di dunia itu tidak mungkin. Salah satu alasan mengapa itu tidak memungkinkan di lingkungan kita ini, karena masih berperan dalang di balik semua tindakan yang merusak kerukunan, demikian Alkitab menyatakanya,

“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” Wahyu 12:9

Akan tetapi berdasarkan ayat ini perlu diingat bahwa malaikat setan tidak punya kuasa untuk memaksa manusia agar bertindak jahat, mereka hanya menggoda. Karena di sisi lain Allahpun memberi jaminan kekuatan bukan hanya malaikat bahkan mengutus Rohulkudus untuk menyertai setiap orang yang mengalami pergumulan, walaupun tetap sifatnya tidak memaksakan melainkan sebatas meyodorkan solusi.

Perhatikan bagaimana hal itu digambarkanoleh Kitab Suci, ”Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.” Yudas 1:9.

Berarti setiap orang yang dikuasai oleh keinginan-keinginan sendiri yang bersumber dari setan akan menjadi pemecah belah di kalangan manapun dia berada, namun siapa yang menyambut ajakan Roh Kudus akan menjadi alat pemersatu. Sungguh kelihatan perbedaan yang amat nyata bukan! Hanya tergantung bisikan mana yag kita dengar, dari Rohulkudus kah atau dari setan.

Kemudian marilah kita mencermati bagaimana Yesus memberikan perintah selanjutnya dalam membangun kerukunan seperti yang dicatat oleh Penginjil Matius ketika masih bersama-sama dengan Guru Aung itu di dunia ini.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Matius 5:45-47

Berdasarkan pernyataan Yesus dalam ayat ini kelihatan, bahwa orang benar dan yang tidak benar bisa hidup berdampingan di satu lingkungan atau ikatan persaudaraan. Namun sikap saling mengasihi akan dapat meredam semua anasir-anasir percekcokan sampai pada giliranya tercipta satu kerukunan. Itulah sebabnya pokok renungan hari ini kembali menghimbau, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:32. Jika ada permintaan “saling mengampuni” berarti di dalamnya ada sedikit gesekan-gesekan, namun akan hilang lenyap ditelah oleh roh saling mengampuni. Ini yang akan memenuhi hati semua pihak dengan kasih mesra, terciptalah kerukunan. Mari kita nikmati!

error: Content is protected !!