Manis Di Mulut Beringas Di Hati

Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Matius 2:7:8

Renungan Harian – Pada waktu Yesus lahir di Betlehem tanah Judea, wilayah itu berada di bawah kekuasaan raja Herodes. Kita akan lebih terharu kalua membaca riwayat penguasa lalim itu dalam tulisan Yosefus seorang sejarawan Yahudi yang terkenal. Meskipun hampir semua raja-raja yang memerintah ketika itu haus akan kekuasaan atau kedudukan, Herodes melebihi yang lain. Demi mempertahankan kedudukan sebagai raja, dia tidak segan membunuh saudara kandung sendiri. Apa pun dia lakukan jika merasa ada yang mengganggu posisinya sebagai penguasa. Tidak heran saat mendengar berita melalui orang majus bahwa ada raja orang Yahudi yang baru lahir, dunia tempat dia berpijak sudah barang tentu terasa panas. Injil matius menulis sebagai berikut, Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Matius 2:3-6

Dapat dibayangkan bagaimana kegalauan Herodes mendengar kabar kelahiran Mesias yang disebut Raja Yahudi. Pasti dia kasak kusuk hingga tidak dapat tidur. Apalagi setelah mendengar keterangan iman-iman kepala bahwa tempat kelahiran-Nya adalah kota kecil Betlehem yang hanya berjarak sekitar 15 km dari istananya di Yerusalem. Tentu ingin rasanya dia berlari ke sana mencari raja yang disebut-sebut orang majus itu, dengan maksud membunuhnya. Akan tetapi sebagai seorang raja yang dimuliakan malu bertindak segegabah itu, lebih baik pikirnya mengatur siasat sampai pada gilirannya dia dapat melenyapkan raja yang dianggap menggangu kedudukannya di kemudian hari. Ia pun mengatur satu politik busuk seperti kita petik pada nats Alkitab di atas, itulah pokok renungan hari ini bertopik, “Manis di mulut, beringas di hati.”

Kita berkeyakinan bahwa Herodes berusaha mengontrol emosi agar tidak terlihat di wajah, seraya berpesan dengan manis kepada orang Majus itu, “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Sedikitpun orang majus tidak tahu bahwa pesan Herodes tersebut hanyalah kalimat spekulatif. Itulah sebabnya mereka segera berangkat dengan tulus menuju Betlehem setelah mendengar pesan itu. Sudah barang tentu dari saat keberangkatan orang majus, Herodes menunggu dengan gemas, sambil mengarahkan matanya tetap ke ujung jalan berharap kembalinya mereka membawa berita akurat di mana raja yang lahir itu. Namun kitab suci mengungkapkan fakta yang mengerikan dimana Herodes bertindak biadab.

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Matius 2:16

Hati siapa yang tidak miris mengenang peristiwa seperti itu, apalagi mewarnai suasana kelahiran Sang Juruselamat dunia. Semua kita geram terhadap Herodes, membayangkan tangisan para keluarga yang harus kehilangan anak yang tak berdosa akibat pelampiasan amarah raja lalim yang rakus kedudukan. Meskipun di sisi lain kita perlu merunduk berdoa kepada Tuhan, agar kesan yang ada di hati masing-masing setelah merenungkan kejadian itu, berhasil mengikis virus rohani yang sama dari dalam diri kita. Tidak dapat dipungkiri, semua organisasi agama-agama dunia saat ini tidak terkecuali denominasi Kristen mengalami problema adanya perebutan kedudukan baik itu di luar maupun dalam gereja. Bahkan kedudukan menjadi penatua atau majelis gereja pun sering menimbulkan persoalan tersendiri. Tidak jarang sampai ada yang gontok-gontokan. Meskipun kita sadar itu memalukan, tapi itulah sisa-sisa sikap Herodes, hanya bobotnya saja yang berbeda. Patut kita renungkan hal ini, terlebih saat merayakan lahirnya Yesus Kristus dimana Herodes ikut sebagai sosok yang turut menjadi perhatian. Dengan tutur kata yang lembut menyatakan untuk ikut menyembah, namun hati dipenuhi amarah yang membara meledak ledak akan melakukan pemusnahan. Semuanya didorong oleh ambisi kedudukan tanpa menyadari jika Tuhan yang merencanakan tiada kekuatan apapun yang dapat menghalangi. Akibatnya Herodes harus menjalani kematian yang amat mengerikan, sekujur tubuhnya digerogoti oleh ulat-ulat sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. (Yosefus)

error: Content is protected !!