Makna Merdeka Yang Sesungguhnya

Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Yakobus 1:25.

Renungan Harian – Dua hari telah berlalu peringatan hari proklamasi Negara Republik Indonesia tepatnya 17 Agustus 2016. Dimana-mana masih terlihat suasana yang menunjukkan kegembiraan rakyat mulai dari penduduk perkotaan hingga ke pelosok desa dengan corak masing-masing merayakan hari bersejarah tersebut. Yang membuat hari perayaan yang satu ini lebih spesifik dari hari besar lainya ialah pekik-pekik “merdeka-merdeka” yang selalu dikumandangkan dengan penuh semangat. Baik itu dalam bentuk dokorasi, umbul-umbul, spanduk-spanduk semuanya bernuansa kemerdekaan. Apalagi di tahun 2016 Republik ini telah menjalani ke 71 tahun di alam merdeka. Seharusnya di usia seperti itu dari sudut perkembangan sudah cukup memasuki kematangan dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini terbukti dari salah satu negara tetangga kita di Asia yakni Korea Selatan yang hanya lebih dulu merdeka dua hari dari Indonesia, namun telah mampu berbicara di kancah perekonomian dunia baik itu di segi teknologi industri dengan kemajuan yang pesat.

Namun renungan ini bukan mau membahas unsur-unsur tersebut, biarlah itu menjadi urusan para praktisi negara. Yang akan kita telusuri adalah, “apa sebenarnya arti kemerdekaan?” Merdeka bukanlah sekedar slogan apalgi yel-yel. Dan bukan juga upacara-upacaraan dalam bentuk seremonial yang fulgar. Sama sekali tidak. Merdeka itu adalah satu kondisi yang nyata. Alkitab yakni Firman Tuhan telah menyatakanya jauh sebelum terbentuknya negara-negara merdeka di seantero dunia. Simak kembali bagaimana Kitab Suci menegaskan, “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Yakobus 1:25.

Sangat gamblang dan to the point, ayat itu merumuskan bahwa merdeka yag sebenarnya ialah, apabila seluruh komponen kekuatan negara bersama-sama dengan sumberdaya manusia, hidup sesuai dengan koridor-koridor hukum yang berlaku. Janganlah dulu menyinggung soal “Hukum Tuhan” yang memang menempati posisi tertinggi di atas segala hukum negara di dunia. Memang, apalagi jika itu diterapkan maka hasilnya akan lebih luar biasa lagi. Tiada satupun negara merdeka yang tidak dilengkapi dengan rambu-rambu hukum  atau peratuan. Jangankan negara dalam skala besar, perusahaan, atau organisasi sekecil apapun pasti memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Aturan yang disusun sedemikian rupa, sudah barang tentu merupakan buah pikiran para konseptor sesuai dengan keakhlian masing-masing demi mencapai tujuan yakni kemajuan-kemajuan yang berarti.

Dengan demikian dapatlah kita simpulkan bilamana seluruh unsur-unsur kekuatan negara menjalankan roda pemerintahan sesuai hukum yang berlaku, kemudian diikuti atau dituruti oleh semua elemen masyarakat, disitulah tercipta kemerdekaan yang ideal. Perhatikan dengan cermat bagaimana Firman Allah menetapkan perujudannya apabila diterapkan, “Ia akan berbahagia oleh perbuatanya!”

Bukankah ini menjadi hakekat dari semua negara merdeka? Misalkan negara  Republik Indonesia yang telah termaktub dalam undang-undang dasarnya bahwa tujuan akhir ialah kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesisa. Jangan pernah bermimpi akan mencapai tujuan itu, selama masih berakar sifat-sifat menghalalkan segala cara tidak peduli apakah itu nyata-nyata melanggar hukum. Selanjutnya Alkitab memberikan nasihat yang amat menyentuh hati sanubari, khususnya mereka yang sudah mencicipi kemerdekaan. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! I Petrus 2:16,17.

Jika makna kemerdekaan ini kita soroti dari sudut pandang berbangsa dan bernegara, dimana jaminanya yang pasti adalah penelitian dan penurutan hukum, maka kita akan memetik hikmahnya secara pribadi maupun ruang lingkup yang lebih kecil yaitu keluarga atau rumah tangga. Kebahagiaan sejati akan kita nikmati apabila menuruti hukum Allah di atas semua hukum manusia.  Inilah topik renungan berikut.

error: Content is protected !!