Makna Kesabaran

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Amsal 16:32.

Jika kita perhatikan ayat renungan harian saat ini, seolah-olah terdiri dari dua bagian pola hidup yaitu “sabar” dan “menguasai diri.” Demikianlah Salomo dengan pengetahuan seni sastranya menuliskan segala inspirasi atau ilham yang dia dapat dari Tuhan dengan tujuan menarik perhatian para pembaca. Bukankah sebenarnya kesabaran itu hanya dimiliki oleh seseorang yang mampu menguasai diri, dan orang yang berhasil merebut kota pada giliranya akan menjadi seorang pahlawan. Inilah hikmah dari segala sesuatu yang bernuansa komplimenter yakni saling melengkapi satu dengan yang lain.

Jika berbicara tentang sifat “sabar” kadangkala muncul beberapa kesan dalam pikiran, apalagi melihat aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Di satu sisi orang-orang merasa bahwa kesabaran tidak akan membawa keberuntungan. Itu sebabnya sering kejadian gara-gara sepele bisa mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Hanya karena rasa cemburu tega memutilasi orang yang dicemburui, tanpa mempertimbangkan akibat perbuatannya harus ditanggung dengan hukuman mati. Sementara di sisi lain kita dapat melihat bagaimana orang sabar berhasil mengatasi persoalan hidup, bukan saja untuk dirinya tetapi juga pada wawasan komunitas yang lebih luas.

Ada sebutan yang telah dianggap kuno mengatakan, “adalah lebih mudah menangkap lalat dengan madu daripada lidi.” Arti sederhananya, “adalah lebih mudah mengatasi persoalan dengan kesabaaran daripada kekerasan atau kemarahan. Ini sangat identik dengan firman Tuhan di atas dan pencetus sebutan ini boleh jadi orang yang rajin membaca Alkitab.

Mahatma Gandhi, pemimpin legendaris yang sangat terkenal menerapkan methode ini dalam usaha perjuangannya memerdekakan India. Saya berkeyakinan ketika dia diberangkatkan oleh ayahnya menggali ilmu di Inggris, sang maestro bidang kepahlawanan ini banyak membaca Alkitab. Ini terbukti dari pernyataannya ketika sedang memerintah. Gandhi pernah mengungkapkan bahwa dia sangat salut dengan Yesus Kristus yang menjadi pusat sembahan orang Kristen. Dan dengan lantang beliau berani katakan, “Sekiranya orang Kristen benar-benar hidup seperti keteladanan Yesus, maka seluruh dunia akan menjadi Kristen.” Dan yang ditonjolkan dalam keteladanan Kristus adalah kesabaran-Nya. Tentu ini dia ketahui dengan membaca Alkitab.

Salah satu metode yang menjadi taktik perang Mahatma Gandhi pada saat perjuanganya melawan penjajah ketika itu terkenal dengan “ahimsa” artinya mengalah untuk memperoleh kemenangan. Bukankah ini Alkitabiah, dimana hasilnya nyata.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sikap sabar ini kelihatanya telah terpelanting jauh dari kehidupan manusia terlebih secara kelompok. Itu sebabnya sudah menjadi pemandangan biasa perkelahian antar komunitas, tauran, bahkan pembunuhan karena sebab musabab yang sepele. Walapun di depan mata semua dapat menyaksikan akibatnya semata-mata hanya kerugian belaka pada semua pihak.

Jika demikian halnya mari berkomitmen untuk memulainya dari diri sendiri atau pribadi. Di pasal sebelumnya Firman Tuhan telah lebih dahulu mengingatkan, “Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan. Amsal 15:18. Bukankah setiap rumah akan menjadi tempat yang menyenangkan bila setiap saat terhindar dari pertengkaran maupun perbantahan sebagai buah kesabaran. Itulah dia “home sweet home” alias rumah tangga idaman. Semua akan dirasa manis, indah, mempesona dan semua anggota keluarga selalu rindu segera pulang ke rumah setiap hari.

error: Content is protected !!