Makna Keramahan Yang Menyelamatkan Jiwa

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus 4:32.

Paling sedikit ada empat sikap kehidupan sosial yang ditonjolkan pada ayat renungan harian kita kali ini, dan merupakan mata rantai yang tidak boleh putus. Misalnya, seseoang dapat berperilaku ramah ialah karena dalam hatinya ada kasih, jiwa kemesraan, yang ditopang oleh roh mengampuni. Bagaiman saya bisa berbicara ramah kepada orang yang tidak pernah saya ampuni kesalahanya. Mengampuni saja susah apalagi mengasihi secara mesra. Seandainya kita menemukan dalam pergaulan sehari-hari ada oknum bertutur kata ramah namun bukan didasari kasih itu adalah munafik. Dalam hal seperti ini harus menyikapinya dengan hati-hati karena bisa saja itu merupakan modus kejahatan yang banyak terlihat sekarang ini. Itulah yang disebut ibarat serigala berbulu domba, firman Tuhan mengingatkan, “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11:14. Waspadalah menghadapi hal seperti itu karena ada setan di belakangnya. Itulah sebabnya Alkitab selalu sempurna menyajikan formula kehidupan dan harus merupkan satu paket agar maknanya benar-benar dinikmati para pelaku. Ramah didasari kasih mesra, dan saling mengampuni.

Perhatikan bagaiman firman Tuhan memberikan rumusan selanjutnya melalui, Amsal 15:1, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Bukankah pepatah kuno masih tetap relevan sepanjang zaman yang mengatakan, “orang pemarah lekas tua.” Ini telah diuraikan oleh para ilmuwan kesehatan bahwa 85% otot kita berkontraksi saat marah, sedangkan saat senyum hanya 15%. Bayangkan perbedaan yang sangat jauh. Sering orang mengabaikan konsep yang menguntungkan ini, apalagi di era yang individualistis sekarang, kelihatanya senyuman itu mahal sekali harganya.

Seorang anak gadis yang bekerja di satu perusahaan daging, satu hari selesai tugas sesuai jadwal dia masuk ke ruang pendingin untuk memeriksa sesuatu. Dia lupa mengatur sistem lock ruangan, sehingga terkunci di dalam sebagaimana telah diatur demi memastikan agar ruangan tetap dalam keadaan steril. Mengetahui kehilapannya yang dapat mengancam jiwa, si gadis terpaksa menjerit minta pertolongan sambil memukul-mukul dinding, namun tidak ada lagi yang mendengar berhubung para pegawai sudah meninggalkan kantor selesai jam kerja perusahaan. Dalam ruangan tersebut orang hanya bisa bertahan paling lama 5 jam, sesudah itu akan mati kedinginan. Tiba-tiba kedengaran suara pintu dibuka dan gadis itu melihat security masuk maka diapun tertolong. Dengan luapan kegembiraanya sang gadis menanyakan security, bagaimana dia tergerak datang dan membuka pintu. Secuity berucap, “Sudah 35 tahun saya bekerja di perusahaan ini, namun tidak seorangpun yang selalu menyapa saya dengan ramah ketika datang pagi demikian pada saat pulang sore selain anda. Dan saya belum mendengar kamu mengucapkan itu sore ini, berarti  belum pulang. Saya berpikir jangan-jangan ada sesuatu yang salah dengan anda sehubungan dengan ruangan ini, karena pernah kejadian sampai seseorang meninggal di dalam.”  Itulah sebanya saya datang mengecek dan ternyata benar. Dengan luapan kegembiraan hati gadis itu dengan ramah dia  memeluk security mengucapkan terima kasih banyak.

Dapat kita bayangkan betapa besarnya nilai dari “keramahan” hanya dengan mengucapkan, “selamat pagi, selamat siang, selamat malam dan lain-lain sesuai situasinya,” dapat menyelamatkan nyawa. Inilah yang sering membuat kita tidak habis pikir dengan  semakin rapuhnya sendi-sendi keramahtamahan di lingkungan sosial kita. Lebih mudah dan lebih senang orang-orang mengucapkan kata-kata hasutan, fitnah, caci maki yang merugikan, ketimbang melemparkan senyum yang menguntungkan semua pihak. Keramahan yang didasari kasih, adalah unsur yang menentukan terciptanya kemesraan baik di kalangan suami-isteri, orang tua-anak, antar keluarga serta komunitas yang lebih luas di tengah masyarakat.

Saya sangat mnyenangi satu lagu pop dan masih menjadi favorit sampai sekarang, namun sedikit tergelitik bahkan ingin meluruskan sepenggal liriknya yang menyebut, “kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kemesraan ini ingin ku kenang selalu…” Tentu dengan lirik ini ada kesan, jika kemesraan ini berlalu biarlah lambat laun, akhirnya tinggal hanya kenangan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada penggubah lagu tersebut, dalam hati saya setiap mengikuti lagu itu, selalu meluruskan sedikit dengan lirik, “kemesraan ini janganlah pernah berlalu, kemesraan ini ingin kukenang selalu…” Saya berkeyakinan semua kita setuju dengan kerinduan ini agar menikmati kemesraan yang langgeng sepanjang umur, dan jangan lupa formulanya keramahan oleh kasih mesra.

Jika dipadukan ayat yang kita kutip hari ini dengan peribahasa kuno tadi, nyatalah indikasinya mengapa penyakit semakin merajalela dan usia manusia semakin singkat. Salah satu pemicunya karena manusia lebih suka bersikap emosi dalam bertindak terbukti dengan maraknya perkelahian antar komunitas, demonstrasi di mana-mana, bahkan tidak jarang dalam pertemuan orang-orang elit politikpun terjadi gebuk-gebukan. Jauhilah semua itu!

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14.

error: Content is protected !!